Jumat, 15 Februari 2008

II. LATAR BELAKANG KELUARGA KYAI MODJO


Menurut Babcock (1989), Kyai Modjo lahir sekitar tahun 1792 , namun di kampung jawa Tondano beliau disebutkan lahir pada tahun 1764 - sebagaimana tertulis pada papan di makam beliau. Menjelang dewasa beliau kemudian menjadi guru agama (ulama) yang sangat berpengaruh daerah Pajang dekat Delangu Surakarta. Nama sebenarnya adalah Muslim Mochammad Khalifah. Ayah Kyai Modjo bernama Iman Abdul Arif (Jawa: Ngabdul Ngarep) atau lebih dikenal dengan Kyai Baderan (Kyai Baderan I), juga seorang ulama terkenal pada masa itu di dusun Baderan dan Modjo, kedua dusun tersebut berada dekat Pajang dan merupakan tanah pemberian (pradikan) Raja Surakarta Pakubuwono IV (1788 -1820) kepada beliau. Belum diketahui latar belakang keluarga beliau, kecuali menurut suatu sumber (Babcock, 1989) Iman Abdul Ngarip memiliki alur keturunan dari kerajaan Pajang. Kyai Baderan meninggal sekitar tahun 1820, kuburannya berada di Desa Modjo Tegalrejo Boyolali, Jawa Tengah. Di areal pemakaman itu terbaring juga jasad RA Mursilah dan putranya bernama Bagus Chalifah (Basuki Heru, 2007).

Menurut Sagimun (1981) ibu Kiay Modjo bernama Raden Ayu (RA) Mursilah, ia adalah putri dari RA.Mursiyah saudara seayah dengan HB III. Dengan demikian ditinjau dari hubungan kekerabatan Kiay Modjo adalah kemenakan Pangeran Diponegoro karena ibu Kiay Modjo (R.A Mursilah bersepupuan dengan Pangeran Diponegoro. Meskipun ibunya seorang ningrat kraton, kiay Modjo dibesarkan diluar kraton. Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan menetap disana selama beberapa waktu (Ali Munhanif, 2003) Kiay Modjo kemudian memimpin satu pesantren di negri Modjo .Selain Kyai Modjo, Iman Abdul Arif memiliki beberapa anak laki-laki diantaranya Wirapatih (kyai Sepoh alias Kyai Baderan II), Kyai Hasan Mochammad dan Kyai Hasan Besari. Selain itu ada lagi saudara Kyai Modjo lainnya bernama RA Marwiyah, Nungali dan Murdoko (Dakwah Dinasti Mataram, halaman 118). 

Keluarga Kyai Baderan memiliki hubungan kekerabatan dengan Kyai Mochammad Qorib (Kyai Bagus Murtoyo/Murtodho) pendiri daerah Kalioso (Kaliyoso), terletak 15 km sebelah utara Solo. Kyai Mochammad Qorip memiliki alur keturunan dari Djoko Tingkir (raja kerajaan Pajang) dan  Kyai Ageng Pangeran Manduroredjo - Patih Sultan Agung Mataram. Beberapa anak Kyai Mochammad Qorib menikah Kyai Hasan Mochammad - putra Kyai Baderan I, dan juga dengan 2 anak Kyai Modjo. Wirapatih (Kyai Baderan II) menikah dengan putri dari Kyai Abdul Djalal II - sepupu Kyai Mochammad Qorib (Durga Mosque, Stephen C. Headly,2004).

Sepeninggal ayahnya, Kyai modjo melanjutkan tugas ayahnya sebagai guru agama di (pesantren) Modjo dimana banyak putra dan putri dari Kraton Solo belajar di pesantrennya di Modjo. Kelak nama Muslim Mochammad Khalifah menjadi terkenal sebagai Kyai Modjo. Keulamaannya dan ada pertalian darah dengan kraton Jogyakarta (baca Pangeran Diponegoro) kemungkinan membuat Pangeran diponegoro memilih kyai Modjo sebagai penasehat agamanya sekaligus panglima perangnya.

Kyai modjo menikah dengan R.A Mangubumi (Babcock, 1989), janda cerai dari pangeran Mangkubumi - paman Pangeran Diponegoro dan karena perkawinan ini Pangeran Diponegoro memanggil Kyai Modjo dengan sebutan “paman” meskipun dari garis ayah Kyai modjo adalah “kemenakan” Pangeran Diponegoro karena ibu Kyai modjo (R.A Mursilah) adalah sepupu Pangeran Diponegoro. Pangeran Mangkubumi adalah salah satu pangeran yang ikut memberontak bersama-sama pangeran Diponegoro dan Kyai modjo. Konon Kyai Modjo memiliki beberapa orang anak, dua diantaranya meninggal di Mekah, sedangkan satu anak yang ikut bersamanya ke Tondano bernama Gazaly.

9 komentar:

didink mengatakan...

Bagus skali historinya kampung jawa tondano yang selama ini saya hanya mendengar dari orang2 tua bacirita yang tidak selengkap ini...moga lebih lengkap lagi cerita tentang perjalanan orang jaton hingga ke gorontalo..wass.

Anonim mengatakan...

Salam...

Saya bersyukur sekali ketika menemukan blog ini. Sebetulnya saya kurang kenal dengan penulis blog ini. Tapi begitu melihat nama Mbah Kyai Modjo, saya langsung membuka halaman ini.

To be honest, ibu saya masih keturunan dari Mbah Kyai Modjo. Ibu saya berasal dari Dusun Gatak, Boyolali. Beliau merupakan putri terakhir dari Bapak Qomar yang berasal dari Wonotoro. Dan Mbah Qomar ini masih keturunan langsung dari Kyai Modjo.

Sebenarnya ada bukti otentik silsilah asli yang dimiliki turun temurun oleh keluarga. Dan sampai sekarang masih tersimpan dengan baik. Bahkan masjid yang sekarang berdiri di atas lahan hibah Mbah Qomar dinamai Masjid Kyai Modjo.

Sebagai generasi muda saya berkeinginan untuk menyambung silaturahmi dengan keluarga yang terpisah nun jauh di sana. Mungkin bisa membantu? Karena saya yakin, di kemudian hari generasi saya yang bertugas untuk meneruskan silsilah ini.

Kepada siapa saja yang dapat membantu, silakan hubungi saya by email di agung.afgani.yosi@gmail.com. Trima kasih...

Anonim mengatakan...

Alhamdulillah.. kami bisa membaca dengan lengkap kisah perjuangan Kyai Mojo di Blog ini.
Perkenalkan, saya ahsan. Sekarang sekarang tinggal dan bekerja sebagai seorang peneliti di UGM Yogyakarta. Saya berasal dari Solo Jawa tengah, bapak saya adalah keturunan ke 5 Kyai Mojo. Kami mempunyai silsilah yang lengkap.
Kakek buyut saya dulu merupakan kepala desa (lurah) di sidowayah (dekat Dusun Baderan/Mojo) dan merupakan keturunan dari Demang Baderan. Kerabat (trah) dari bapak saya, saat ini banyak yang dimakamkan di permakaman keluarga di Desa Mojo (tempat kelahiran Kyai Mojo).
Sekitar awal tahun 1970-an, kakek saya juga sempat bersilaturahmi dan berziarah ke makam Kyai Mojo di perkampungan Jawa Tondano dan diterima dengan sangat baik oleh keturunan Kyai Mojo di Jaton.
Kepada trah Mojo yang ada di manapun, mari kita menjalin silaturahmi.

herman mengatakan...

Ass. Wr. Wb.

Terimakasih atas penjelasan di blog ini. Saya senang menyambung tali silaturahmi.
Salam kenal, saya herman sulistiyo, dosen dan peneliti di FE-UI. tinggal di Jakarta dan sekarang sdg kuliah s3 di Hiroshima, jepang. Bpak dan kakek berasal dari Solo, tp mbah buyut berasal dari Pengging, Boyolali. Sebenarnya, saya hanya tahu sampai mbah/kakek buyut saja,tp nggak tahu di atas nya. Kemudian pakde saya yang bermukim di singapura (Alm. Ahmad Sonhadji,http://infopedia.nl.sg/articles/SIP_1468_2010-08-13.html) bersilaturahmi ke solo (beliau senang bersilaturahmi) dan membawakan buku yg diterbitkannya dan di situ tercantum silsilah keluarga kami,antara lain ada kyai Modjo dalam urutan silsilah leluhur kami.
Sebagai generasi muda saya ingin menjalin silaturahmi dengan para kerabat yang terpisah. email saya herman_sulistiyo@yahoo.com atau hermancivil@yahoo.com.
Kalau ada penlitian di Manado, saya ingin mampir/silaturahmi ke tondano dan berkunjung ke makam kyai modjo.

wassalam
herman sulistiyo
hiroshima, 30 oktober 2010

Anonim mengatakan...

Taklim puji rahayu, sanget atur panuwun kula aturaken dhumateng kadang panyerat situs punika. mboten ateges kula ndhaku-ndhaku, hananging naluri ingkang nedahaken kula kedah mbikak situs punika. Kala semanten bapak kula lan paklik kula rikala taksih gesang nate ngendika bilih eyang kula taksih wonten garis trah kaping IV saking panjenenganipun Kyai Maja. Asmanipun eyang kula Mangun Sumartan (sampun seda kapetak wonten Makam Kyai Langgeng), dene eyang putri sampun seda kapetak wonten makam Baderan. Wekdal puniki kantun ibu ingkang taksih lenggah wonten griya keprabonipun eyang ing Sidowayah. Minangka wayah kula rumaos gadhah tanggel jawab kedah hangeluru naluri kadang leluhur ingkang sampun sumare. Mbok bilih sedaya kalawau saged ndadosaken makempalipun balung apisah mamrih raketipun pasedherekan ingkang sampun cuthel ing panaluren.Nuwun

Poetra Timoer
Karanganyar, Solo, Jawa Tengah
gregandieka@yahoo.com

Unknown mengatakan...

Trah Harjowikraman,Klaten Urun Rembuk:Tentang kisah penangkapan Kyai Mojo yang beredar di daerah Karanganom-Klaten.Kalau boleh menambahkan kepada penulis yaitu tentang Figur;nDORO KLIWON dari desa Karang anom-jatinom diyakini sebagai figur orangnya Belanda yang bertugas menipu Kyai Mojo,sehingga kyai mojo ditangkap belanda di dusun Jungkare'(perlu dikaji Kyai Mojo tertangkap di Kebun Arum(Kebonarum)atau Jungkare'Karanganom),Karanganom.nDoro Kliwon disumpahi Kyai mojo,bahwa ndoro Kliwon akan melarat 7 turunan,dan hal ini terbukti "Kliwonan" tinggal puing2nya saja ,keturunan terakhir bernama RM. Triparwa telah meninggal tanpa anak ,hidup dalam kemiskinan.soal benar dan tidak cerita ini mohon pencerahannya.

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya nama Haryo Wijayanto seorang guru SMA di Yayasan Pendidikan Soroako, Luwu Timur - Sulawesi Selatan dan telah berdomisili di Soroako sejak 1991. Saya juga keluarga besar Kyai Haji Muhammad Qorib dari kakek buyut saya yaitu Ki Mangoensoetomo yang juga salah satu cicit Kyai Haji Muhammad Qorib yang juga kerabat Kyai Baderan. Intinya saya ingin bersilaturahmi dengan keluarga besar Trah Kaliyoso dan tentu Trah Kyai Mojo.
email saya : haryowijayanto@gmail.com. Wassalam

Hari djarum―super zees mengatakan...

Di salah 1 kerabatnya ada nama kyai pajang atau tumenggung zees. tolong dong ceritakan nsejaranya juga..

Mehong Asyik mengatakan...

Ternyata kita bersaudara mas,tapi sekarang warga jaton sebagian hijrah kedaerah gorontalo dan mendirikan kampung kampung jaton disana,kiayi modjo dijadikan marga orang orang jaton yang masih keturunannya.

Petunjuk Menonto Video Secara Lengkap

Bila gambar dan suara agak tersendat atau terputus-putus, maka agar gambar dan musik dapat ditonton dan didengar secara normal harap tunggu setelah komputer anda selesai menstreaming seluruh isi video dalam beberapa menit (1 - 5 menit, tergantung pada jenis komputer anda), kemudian replay (play ulang).

Liputan 6 SCTV 2006: Punnguan Di Kampung Jawa Tondano

Cuplikan Selawat Jowo, Kampung Jawa Tondano

MusicVideo: Waki Tembo Temboan


MusicVideo Jaton : Opo Mana Natas


MusicVideo Jaton: Mesjid & Makam Kyai Modjo


Silsilah Kyai Modjo

Silsilah Kyai Modjo
Silsilah Kekerabatan Kyai Modjo & Cikal Bakal Keluarga Keturunan Mereka di kampung Jawa Tondano

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)