Jumat, 15 Februari 2008

IV. MEREDUPNYA HUBUNGAN KYAI MODJO & DIPONEGORO


Jalannya perang menunjukan pasang surut antara menang dan kalah. Pertempuran demi pertempuran telah mengakibatkan banyak jatuh korban di kedua belah pihak. Perang telah meluas bukan hanya di kota Yogyakarta tapi ke seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Memasuki tahun keempat (1828) peperangan, Kiay Modjo melihat bahwa perang ini telah membawa kesengsaraan yang berat bagi rakyat dan pengikutnya, maka beliau mencoba melakukan kontak dengan Belanda untuk mengakhiri perang. Yang diutamakan oleh Kiay Modjo adalah jaminan pelaksanaan sariat islam di Jawa dan kemakmuran rakyat, sehingga tidaklah penting siapa yang berkuasa di tanah Jawa. Sehingga bila Belanda dapat menjamin hal tersebut beliau siap melepaskan senjata untuk berdamai.

Sebaliknya Pangeran Diponegoro memiliki latarbelakang yang lebih komplek, khususnya yang berhubungan dengan suksesi kepemimpinan di kraton, dan factor inilah yang menjadi sebab agenda perjuangan Kiay.Modjo dan Pangeran Diponegoro berbeda.

Perselisihan antara Kiay Modjo dan Diponegoro tentang tujuan perang suci, dan siapa yang berhak menduduki kursi kepemimpinan setelah tujuan tercapai, membuat Kiay.Modjo putus asa dan mengundurkan diri dari medan pertempuran.

Hal penting lain yang membuat Kiay Modjo tidak akur dengan Diponegoro adalah adanya kecenderungan dari Pangeran Diponegoro memposisikan diri sebagai juru selamat dan secara tersirat menghubungkan peristiwa spiritual yang dialaminya seakan akan sama dengan peristiwa spiritual yang dialamai oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa spiritual yang dimaksud disini adalah seperti proses yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW sewaktu beliau diangkat menjadi Rasul dan peristiwa-peristiwa khusus yang dialami beliau, seperti suka menyendiri di goa dan gunung, menerima wahyu dari Malaikat Jibril dan lain-lain.

Dalam buku Babad Diponegoro karangan Pangeran Diponegoro sendiri (catatan : ada dua versi Babad Diponegoro, yang satu dikarang oleh Cakranegara, seorang Bupati pro Belanda dan musuh Pangeran Diponegoro) menulis bahwa ia (Diponedgoro) telah mengalami kejadian spiritual (dan secara implisit menginformasikan bahwa peristiwa tersebut) sama seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW.

Diponegoro menulis, ketika sedang berkhalwat (bertapa) di gua Secang pada tanggal 21 Ramadhan, ia mendapat tugas suci dari Allah SWT melalui perantaraan “Ratu Adil” untuk berperang, dan pada tanggal 27 Ramadan “Ratu Adil” mengangkatnya sebagai “Jeng Sultan Abdulhamid Herucakra Sayidin Panatagama Khalifah Rasullullah di tanah Jawa” (Babad Diponegoro, p.98-100). Kutipan dari halaman 10 buku babad tersebut, Diponegoro menulis sebagai berikut (KRT.Hardjonagoro,1990) :

“Amba nuwun, sampun tan kuwawi jurit, lawan tan saget ika, aningali dhumateng pepeti’
[Hamba mohon(ampun), hamba tak kuat berperang (lagi) dan tak dapat melihat orang (mati).

Akan tetapi Ratu Adil menjawab :

“Ora kena iku, wus dali karsaning sukma, tanah Jawa pinasthi marang hyang Widhi, kang duwe lakon sira nDatan ana liya maning-maning”
[Itu tak boleh, sudah menjadi kehendak Allah, ditakdirkan di pulau Jawa yang memegang peranan ialah kamu, tak ada yang lain lagi.]

Contoh lain yang ditulis dalam buku itu adalah mengenai kejadian dalam suatu perang (mirip dengan perang Hudaibiyah), mengaku tidak tahu membaca dan menulis (padahal dia telah menulis buku Babad), dan lain-lain.

Barangkali Pangeran Diponegoro pada waktu itu pernah membaca atau diceritakan mengenai sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan mencoba mentransformasikan peristiwa spiritual Nabi Muhammad tersebut ke dalam dirinya sendiri. Memang setiap Muslim dianjurkan untuk berusaha meniru atau mencontoh akhlak Rasullullah sebagi suri tauladan, tetapi bukan berarti harus menjelma seperti nabi.

Mungkin sebagai orang Jawa Pangeran Diponegoro (meskipun sudah beragama islam) belum bebas dengan pengaruh budaya Jawa yang kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan Hinduism. Menghadirkan tokoh spirituil seperti “Ratu Adil” (Jibril atau mesias ?), “Nyai Roro Kidul”, dan tokoh dewa-dewa yang menjelma menjadi manusia bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat agar memandang orang-orang yang memiliki hubungan istimewa dengan tokoh tersebut adalah orang yang istimewa atau terpilih (memiliki kanuragan) dan statusnya berbeda dengan manusia kebanyakan, sehingga pada akhirnya masyarakat menjadi patuh dan tunduk secara sosial maupun politik.

Alasan Diponegoro memberontak tidak semata karena factor penjajah, tetapi lebih dari itu. Diponegoro berkeinginan mendirikan kerajaan jawa yang baru dengan beliau sebagai rajannya.
Keinginan ini barangkali dipicu oleh perasan frustrasi akan konflik internal (suksesi) kerajaan yang berkepanjangan akibat campur tangan penjajah.

Kecenderungan Diponegoro memposisikan diri sebagai raja (baru) jawa terlihat dalam gaya dan atribut kerajaan yang ditonjolkannya dalam memimpin peperangan. Karena Diponegoro berjuang untuk mendirikan istana tandingan, gelar dan perlengkapan kebangsawanan jawa selalu ditampilkan demi kebutuhan untuk menunjukan bahwa ia adalah penguasa spiritual yang berhak atas tahta Mataram. Para pengikutnya (kecuali Kiay Modjo Cs), dengan berbagai cara, juga memperlakukan dan melayani semua keperluan Diponegoro sebagaimana layaknya seorang pemegang tahta kerajaan. Mereka memperlihatkan perlengkapan bangsawan jawa yang megah, termasuk didalamnya pusaka pribadi-keris, kuda, dan lain-lain. Disamping itu, meskipun Diponegoro sendiri berpakaian jubah Arab muslim, ia dan para bangsawan dikelilingi oleh payung berlapis emas. Bendera yang digunakan bertuliskan ornamen kerajaan (Ali Munhanif, 2003).

Diponegoro berhasil menggunakan sentimen kebudayaan jawa (mistisisme; ratu adil) yang diadopsi dari kebudayaan Hindu-Budha, untuk merekrut sebagian masyarakat dan bangsawan beraliran (kepercayaan) bergabung dalam panji-panji kerajaan tandingannya.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Frustasi atau keputusasaan Kiai Mojo sehingga memilih berhenti berjihad apa bukan karena belanda menawan keluarga Beliau??, lalu apa alasan Beliau bernegosiasi dengan belanda kalo tidak ada yg dinegokan???sehingga rela diasingkan ke Tondano beserta keluarga dan Ring 1 Beliau..mari kita kaji bersama..trmksh.

Anonim mengatakan...

Yang dinegokan kyai modjo adalah penerapan syariat islam, terserah siapapun yang memimpin apakah kerajaan jawa atau belanda.

@Al_Barzanj mengatakan...

Mindset Seorang pemuda itu bisa berubah 360 derajat dikala masa Tuanya tiba. Intinya Kedewasaan. Pandangan yg digunakan juga atas dasar Ajal yg diperkirakan semakin dekat. Memberontak itu hanya menyia nyiakan sisa sisa umur yg diberikan Tuhan. Alasan yg sama, sudut pandang yg sama, kedewasaan yg sama juga hampir dimiliki semua Pejuang yang dulunya juga seorang kaum Muda. Apalagi alasannya Dakwah Ilallah. Alasan Syaikh Yusuf Al-Makassari yg bahkan diasingkan dibelahan dunia lain juga kiranya hampir sama. Ora et labora pro bono publiko.

Petunjuk Menonto Video Secara Lengkap

Bila gambar dan suara agak tersendat atau terputus-putus, maka agar gambar dan musik dapat ditonton dan didengar secara normal harap tunggu setelah komputer anda selesai menstreaming seluruh isi video dalam beberapa menit (1 - 5 menit, tergantung pada jenis komputer anda), kemudian replay (play ulang).

Liputan 6 SCTV 2006: Punnguan Di Kampung Jawa Tondano

Cuplikan Selawat Jowo, Kampung Jawa Tondano

MusicVideo: Waki Tembo Temboan


MusicVideo Jaton : Opo Mana Natas


MusicVideo Jaton: Mesjid & Makam Kyai Modjo


Silsilah Kyai Modjo

Silsilah Kyai Modjo
Silsilah Kekerabatan Kyai Modjo & Cikal Bakal Keluarga Keturunan Mereka di kampung Jawa Tondano

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)