Jumat, 15 Februari 2008

V. PENANGKAPAN KYAI MODJO


Disebabkan kelelahan berperang dan perbedaan pandangan mengenai tujuan perang antara Kyai Modjo dan Pangeran Diponegoro tersebut serta belakangan diketahui oleh Kyai modjo bahwa tindakan-tindakan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya tidak mencerminkan ahlak islam membuat Kyai Modjo bersedia berunding dengan Belanda untuk menghentikan perang. Keinginan itu disampaikan Kyai Modjo melalui surat tanggal 25 Oktober 1828 kepada Kolonel Wira Negara – Komandan Pasukan Tentara Kraton, menyatakan keinginan mengadakan pertemuan dan perundingan dengan Belanda. Tempat pertemuan yang ia inginkan di daerah Pajang dari mana dia berasal

Belanda sadar bahwa kekuatan Pangeran Diponegoro sangat tergantung pada Kiay Modjo. Sehingga apabila Kiay Modjo dan pasukannya dapat ditundukan maka akan mudah untuk meringkus Pangeran Diponegoro. Maka ketika Belanda mendengar keinginan Kiay Modjo untuk melakukan negosiasi perdamaian kesempatan ini tidak disia siakan oleh Belanda. Dimata Belanda Kiay Modjo ini adalah seoarang pemimpin dan panglima yang sangat mengancam kepentingan Belanda, sehingga penting bagi Belanda untuk melumpuhkan tokoh ini.

Kabar Kyai Modjo ingin berdamai ini tentu saja sangat menggembirakan Belanda. Belanda berpura-pura setuju melakukan perdamaian sembari menyusun siasat busuk untuk memperdaya dan menangkap Kiay Modjo. Atas kesepakatan bersama pertemuan akan diadakan di Mlangi – Yogyakarta pada tanggal 31 Oktober 1828, pertemuan ini gagal terlaksana kemudian direncanakan lagi pada tanggal 5 Nopember 1828, pertemuan inipun gagal.

Atas kegagalan ini Belanda kemudian membujuk Kyai Modjo untuk mengadakan perundingan di Klaten dan Kyai Modjo menyetujui. Belanda telah bertekat akan menangkap Kyai Modjo dan pengikutnya bila pertemuan berhasil diadakan. Pertemuan di Klaten direncanakan diadakan pada tanggal 12 Nopember 1828. Pada tanggal tersebut, ketika Kyai Modjo dan pengikutnya datang untuk berunding, Kiay Modjo dan pasukannya yang berjumlah kurang lebih 500 orang disergap dan dilucuti oleh Belada di dusun Kembang Arum tanpa ada perundingan, ditangkap dan dibawa ke Salatiga dengan pengawalan ketat. Atas permintaan Kiay Modjo sebagian besar pasukannya dibebaskan oleh Belanda dan hanya kerabat Kiay Modjo, beberapa tokoh agama, prajurit, dan pelayan saja yang tetap ditawan oleh Belanda.

Dalam dunia modern tindakan Belanda ini adalah suatu kejahatan perang. Konon dalam menangkap Kiay Modjo dan pasukannya Belanda mendatangkan ke tanah Jawa tentara Belanda Pribumi dari Manado dan Ambon.

Di Salatiga pada tanggal 17 Nopember 1828, Belanda mengadakan pertemuan (tepatnya interogasi) dengan Kyai Modjo dan kerabatnya. Pembicaraan tersebut tertuang dalam dokumen Raden Tumenggung Mangun kusumo tertanggal Magelang 19 Nopember 1828 (Arsip Nasional RI, Ina Mirawati) tentang pembicaraan Letnan Gubernur Jendral beserta staffnya Residen Kedu (F.G Valck), Letkol Roepst dan kapten de Stuers dengan Kyai Modjo beserta para pengikutnya. Isi laporan tersebut secara singkat (edit oleh penulis)sebagai berikut ;

Dalam pembicaraan itu Kyai Modjo mendapat pertanyaan apakah dirinya setuju dan cocok jika Pulau Jawa dikembalikan kepada Pangeran Diponegoro (maksudnya Diponegoro menjadi raja tanah jawa, dengan demikian menghapus kekuasaan dua sultan yang berkuasa saat di Solo dan Yogya). Kyai Modjo tidak menjawab setuju atau tidak tetapi beliau mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro akan puas dan akan berdamai apabila tanah Jawa dikembalikan kepada Pangeran Diponegoro (Diponegoro menjadi raja jawa yang baru). Tersirat dalam pernyataan Kyai Modjo tersebut bahwa beliau mengetahui betul apa sebenarnya motif dibalik pemberontakan Pangeran Diponegoro. Kyai Modjo mengungkapkan satu keinginannya yaitu menjadikan Agama Islam sebagi agama negara (bukan agama kesultanan).

Dalam pembicaraan tersebut Pemerintah Kolonial menjawab bahwa tanah jawa tidak akan diberikan kepada Pangeran Diponegoro dan Belanda akan tetap berkuasa sampai pemberontak bersedia bergabung lagi dengan Sultan Solo dan Sultan Yogya (kedua sultan tersebut notabene berada dalam kendali Belanda). Mengenai keinginan Kyai Modjo agar Agama Islam menjadi agama negara, Belanda mengatakan bahwa agama tetap berada dalam perlindungan Sultan (Yogya) dan Sunan (Solo). Bahwa pererintah Kolonial tidak mempunyai niat untuk mengubah Islam yang menjadi keyakinan mereka itu, tidak akan melakukan perubahan-perubahan dalam bidang keagamaan, masalah-masalah yang berkaitan dengan Agama tetap bernafaskan Islam dan mengacu pada Alquran. Pemerintah di kedua kerajaan itu wajib melindungi dan percaya terhadap Agama Islam.

Jawaban Belanda yang tidak mengabulkan keinginan Pangeran Diponegoro bukan persoalan besar bagi Kyai Modjo. Awalnya Kyai Modjo bersedia membantu pangeran Diponegoro dalam peperangan karena Pangeran Diponegoro punya keinginan untuk membersihkan ajaran islam dari praktek-praktek bid’ah, namun belakangan beliau mengetahui banyak pengikut Diponegoro yang mengaku beragama Islam sudah tidak lagi melakukan sembahyang, tidak memberi zakat dan tidak pergi ke Mekah, minum minuman keras dan main perempuan. Bahkan Pangeran Diponegoro sendiri ikut-ikutan ”main” perempuan dan banyak selir (Sultan Abdulkamit Herucakra, halaman 74 – 76, KRT Hardjonagoro). Juga Pangeran Diponegoro telah memposisikan diri sebagai ”ratu adil” yang diutus oleh Allah SWT – ”meniru” pengalaman spiritual Nabi Muhammad SAW.

Yang menjadi Kyai Modjo kecewa adalah bahwa Belanda tetap menjadikan Agama Islam dalam wewenang kekuasaan Sultan. Kyai Modjo sedih dan prihatin mengingat tindak tanduk kedua sultan dan budaya di kraton sudah sangat melenceng jauh dari ajaran syariat Islam. Para Sultan dan pemerintah serta rakyatnya telah ”melacurkan” dan mencampuradukan (sinkretisme) syariat Islam dengan Hinduisme. Pencemaran ritual Islam tumbuh subur dimana-mana seperti mistikisme, sesajenisme, kejawenisme dan lain-lain.

Dalam situasi yang tidak menguntungkan untuk Kyai Modjo di Salatiga itu, pemerintah Kolonial hanya memberikan pilihan kepada Kyai Modjo; bergabung kembali dengan Sultan (baca Belanda) atau ditahan dan diasingkan keluar pulau jawa, dan ..........Kyai Modjo memilih pilihan kedua tetapi menolak dianggap sebagai pemberontak.

1 komentar:

rosian mengatakan...

Kalau dicermati sejarah perjuangan Kiay Modjo sampai dengan didirikannya Kampung Jawa Tondano pada 2 Abad yang lalu, luar biasa.
Tapi sekarang, apa yang terjadi di Kampung Jawa Tondano, makin lama makin luntur apa yang di cita citakan oleh mbah mbah kita dulu, saling gontok gontokan!Re' ka wera'! Weta' E
Apa sebenarnya yang kau cari hai Jaton?

Petunjuk Menonto Video Secara Lengkap

Bila gambar dan suara agak tersendat atau terputus-putus, maka agar gambar dan musik dapat ditonton dan didengar secara normal harap tunggu setelah komputer anda selesai menstreaming seluruh isi video dalam beberapa menit (1 - 5 menit, tergantung pada jenis komputer anda), kemudian replay (play ulang).

Liputan 6 SCTV 2006: Punnguan Di Kampung Jawa Tondano

Cuplikan Selawat Jowo, Kampung Jawa Tondano

MusicVideo: Waki Tembo Temboan


MusicVideo Jaton : Opo Mana Natas


MusicVideo Jaton: Mesjid & Makam Kyai Modjo


Silsilah Kyai Modjo

Silsilah Kyai Modjo
Silsilah Kekerabatan Kyai Modjo & Cikal Bakal Keluarga Keturunan Mereka di kampung Jawa Tondano

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)