Jumat, 28 Maret 2008

IX. PERKAWINAN PENGIKUT KYAI MODJO & GADIS-GADIS MINAHASA (TONDANO)

Tahun 1831 : Pernikahan Dengan Wanita Tondano Sebagai Starting Point Generasi Kampung Jawa Tondano.

Bulan Mei Tahun 1831 genap 1 tahun Kyai Modjo dan pengikutnya berada di Tondano dan hampir 3 tahun sejak mereka ditangkap di Kembang Arum Salatiga pada Nopember 1828.

Tiga tahun sudah Kyai Modjo dan pengikutnya meninggalkan tanah Jawa, meninggalkan tanah kelahiran, meninggalkan keluarga, meninggalkan anak, meninggalkan istri, meninggalkan saudara, meninggalkan kerabat, tidak dapat memberi dan/atau menerima berita dari orang-orang yan mereka cintai, semuanya terputus bagaikan seutas benang sutra halus yang putus dimana potongan satunya jatuh dikegelapan.

Tiga tahun sudah Kyai Modjo dan pengikutnya dipaksa oleh para ”perompak eropa” meninggalkan tanah leluhur mereka, tanah milik mereka, meninggalkan dusun mereka; Sleman –Mlangi - Surakarta – Yogyakarta – Tegalrejo - Modjo – Baderan – Pulokadang – Krapyak – Boyolali – Pajang – dan lain-lain.

Tiga tahun sudah Kyai Modjo dan pengikutnya dipaksa oleh para ”perompak eropa” meninggalkan tanah dimana ”pusar” mereka dikuburkan menuju ke suatu tempat akhir yag tidak mereka ketahui, bermula dari Salatiga kemudian ke Semarang – Batavia – Ambon – Manado, menyeberangi 3 lautan (laut Jawa, laut Arafuru, laut Sulawesi), ketika baling-baling kapal Thalia dan kapal Mostora mulai berputar semakin cepat, ketika buritan kapal-kapal itu mulai berputar membelakangi tanah jawa dan makin menjauhi tanah Jawa, mereka ada di kapal itu bertanya-tanya akankah mereka dapat kembali lagi?, air mata mereka mulai berjatuahan tidak terbendung lagi, isakan tangis tak mampu menghentikan kencangnya deru mesin kapal, mereka merasa lelah lahir dan batin, 3 bulan terombang ambing dan terhempas gelombang 3 lautan setinggi rumah nyaris menelan seisi kapal bagaikan berontaknya batin tanpa daya, termenung dalam ketakutan, mata saling pandang tanpa kata-kata, terkurung dalam kapal perang beratapkan terpal, diantara mereka ada yang sekarat dan nyawa lepas dari raga, namun tak seorangpun dari para ”perompak eropa” itu mempedulikan. Mereka berusaha menguatkan hati mereka dengan menyebut nama Allah dan berzikir. ( Note :Letnan Belanda yang mengawal selama perjalanan dari Surakarta sampai di Manado melaporkan bahwa Kiay Modjo dan pengikutnya sering menyanyikan lagu-lagu (Zikir Qolibah ?) yang diambil dari Alquran).

Hari itu, di bulan Mei 1830 seakan memberi jawaban akan pertanyaan mereka selama 3 bulan mengarungi lautan bahwa tempat tujuan akhir (destination) mereka adalah Tondano, suatu tempat yang sangat asing dengan masyarakat yang asing, bahasa yang asing. Mereka merasa bagaikan berada di suatu tempat di planet lain.

Hari itu, ketika mereka menghitung jumlah mereka, hitungan berhenti pada angka 63 padahal 3 tahun lalu hitungan masih di atas 100, telah lebih dari 40 orang terlepas jiwa dari raga sejak perjalanan dari tanah jawa.

Hari-hari selanjutnya mereka lalui dalam kesepian, ketika gelap malam datang merengkuh dan meyelimuti dengan hawa dingin Tondano, hanya berpenerang cahaya bulan dan kayu bakar, tubuh-tubuh yang lelah lunglai terhempas di atas bale-bale rumbia dan tikar, kerinduan akan kampung halaman dan handaitolan di tanah jawa menghujam hati.

Hari-hari itu, hari-hari yang penuh ujian dan cobaan, bertanya-tanya adakah Allah SWT masih bersama mereka?, ya Allah – adakah Engkau mendengar do’a dan jeritan hati kami?, adakah arti dari perjuangan dan pengorbanan membela kehormatan dan ajaran Nabi Muhammad SAW?, belum cukupkah namaMu kami sebut puluhan kali dalam setiap zikir? dan atusan kali dalam sehari?, jiwa-jiwa mereka mulai rapuh.

Hari-hari itu, seorang Kyai Modjo dan seorang saudara satu-satunya Kyai baderan, kualitas keulamaannya benar-benar diuji, kepemimpinannya menjadi taruhan, kekhawatiran akan terjadi demoralisasi pengikut-pengikutnya tiba-tiba datang menyergap.

Tiga bulan pertama adalah usaha keras Kyai Modjo dan Kyai Baderan membangkitkan moral para pengikut, membangkitkan kembali semangat hidup, mengingatkan keyakinan akan pertolongan Allah SWT, lupakan tanah Jawa !. Di sini, di Minahasa, di Tondano akan menjadi “tanah Jawa” yang baru, ”Tegalrejo” yang baru, penduduk asli Tondano akan menjadi saudara-saudara yang baru. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah SWT Kyai Modjo berhasil membangkitkan semangat hidup dan semangat juang para pengikutnya. (Kampung Jawa) Tondano menjadi bukti/tonggak sejarah masuknya agama islam langsung di jantung Minahasa.

Semula secara tidak langsung Belanda ingin melucuti semua atribut keulamaan dan kepemimpinan Kyai Modjo serta keyakinan para pengikutnya namun Allah SWT adalah sebaik-baiknya Dzat yang melucuti. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosa dan memberi tempat yang layak untuk ”Founding Fathers” Kampung Jawa Tondano” disisiNya – Amin.

Tahun itu, tahun 1831,tahun pertama di Tondano, tahun yang menentukan akan ada auau tidak generasi Kampung Jawa Tondano, tahun dimana Kyai Modjo baru memasuki usia 40 tahun. Tahun itu adalah tahun kerja keras, tahun bermandikan peluh dan keringat, tahun dimulainya persahabatan antara orang Tondano dan ”orang jawa pendatang”. Tahun itu, tangan dan kaki telanjang ”orang jawa pendatang” menjadi sekop dan pacul, kayu menjadi bajak, rawa ganas diubah menjadi ladang, menanam apa yang bisa menjadi makanan.

Tahun pertama itu, dengan strategi kerja keras dan moralitas tinggi yang dipimpin oleh Kyai Modjo dan mengajari penduduk Tondano cara bercocok tanam yang baik ternyata telah membuat penduduk asli Tondano sangat ”wellcome”. Sikap dan achlak yang ditunjukan telah menarik perhatian penduduk asli Tondano. Bahkan para ”Lolombulan” (sebutan untuk anak gadis asli Tondano pada masa itu) tertarik untuk berkenalan dengan laki-laki ”orang-orang jawa pendatang” itu, dan terbukalah pintu gerbang perkawinan antara ”orang-orang jawa pendatang” dengan para ”lolombulan”.

Residen Menado ketika mengunjungi (Kampung Jawa) Tondano pada tahun 1831 (Ref. Surat Residen Menado ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral di Batavia tertanggal 18 Oktober 1831 No.235 ) mencatat bahwa pada tahun pertama itu telah ada perkawinan beberapa orang jawa itu dengan gadis-gadis Tondano, salah satu diantaranya adalah Sis (Tumenggung Zes Pajang mataram). Tumenggung Zes adalah putra dari Kyai Hasan Besari – adik dari Kyai Modjo), beliau menikah dengan Wurenga Rumbayan – putri Kepala Walak Tondano bernama; RUMBAYAN). Dalam bahasa Tondano ; Wurenga artinya telur, dan memang menurut cerita di kampung Jawa tondano bahwa si ”lolombulan” Wurenga Rumbayan berkulit putih bersih seperti putih telur.

RUMBAYAN sebagai kepala walak Tondano tentunya memiliki kelebihan dalam hal kesaktian dan keberanian dalam ukuran masyarakatnya. Konon ketika Kyai Modjo datang menemui Rumbayan bermaksud melamar putrinya untuk Tumenggung Zes, Rumbayan menguji melalui ”pertarungan” persabatan untuk mengetahui ke”mandragunaan” kelelakian ”orang jawa pendatang” itu dan konon Rumbayan mengakui ”kesaktian” (bathin) Kyai Modjo Cs. Rumbayan mengabulkan lamaran Tumenggung Zes dan merelakan putrinya menjadi seorang muslimah. Dari perkawinan Tumenggung Zess Pajang Mataram ini kelak keturunan Keluarga atau Fam (Tumenggung) Zess hingga saat ini. Perkawinan pertamakali ini kemudian diikuti dengan perkawinan-perkawinan berikutnya antara kerabat Kyai Modjo dan gais-gadis Tondano, antara lain sebagai berikut ;

1. Gazaly menikahi putri keluarga TOMBOKAN bernama Ringkingan.

(Kelak menurunkan keluarga Modjo)

2. Tumenggung Reksonegoro menikahi putri dari keluarga TUMBELAKA.

(Kelak menurunkan keluarga Pulukadang)

3. Wiso menikahi putri keluarga PAKASI-LENGKONG

(Kelak menurunkan keluarga Pulukadang)

4. Syafei alias Sopingi menikahi putri keluarga WALALANGI.

(Kelak menurunkan keluarga Baderan)

5. Rajes menikahi putri keluarga KALENGKIAN.

(Kelak menurunkan keluarga Baderan)

Dua orang kemenakan Kyai Modjo yang lain (Elias & Tumenggolo) kemungkinan juga menikah dengan gadis Tondano tetapi tidak ada catatan tentang identitas istri mereka.

Kyai Modjo sendiri tidak menikah lagi hingga beliau wafat pada tanggal 20 Desember 1849.

Tidak semua pengikut Kyai Modjo menikah dengan wanita Tondano, ada juga yang menikah dengan wanita jawa yang datang ke Menado bersama rombongan Pangeran Diponegoro ataupun yang datang kembali ke Tondano setelah menemani Pangeran Diponegoro ke tempat pembuangan terakhir di Makasar 4 tahun kemudian (tahun 1834). Mereka itu adalah putri-putri dari pengawal-pengawal Pangeran Diponegoro yang sekalian dengan bapaknya kembali (set back) ke Tondano setelah hanya beberapa waktu di Makasar, seperti putri-putri dari Banteng Wareng, Djoyosuroto, Sataruno, Mertosono alias Merta Leksono, Midin alias Nurhamidin, Suratinoyo, dan lain-lain. Dan khirnya setiba di Tondano pengawal-pengawal Pangeran Diponegoro juga kembali menikah dengan wanita Tondano, kelak dari mereka menurunkan keluarga Djoyosuroto, Sataruno, Mertosona, Nurhamidin, Banteng, Sataruno. Keturunan mereka hingga kini digolongkan sebagai warga Kampung Jawa Tondano.

Kemudahan menikahi wanita-wanita Minahasa ini berlangsung hingga tahun 1835. tahun-tahun selanjutnya mulai terasa kesulitan karena zending-zending kristen sangat gencar menyebarkan agama kristen di Minahasa terutama di Tondano. Pada kondisi demikian Kyai Modjo dan pengikut-pengikutnya merubah strategi dari ekspansif menjadi defensif. Bertahan sambil memperkuat keimanan islam di wilayah kampung Jawa Tondano. Kyai Modjo sangat sadar, kekuatannya sangat terbatas dan minoritas, ia tidak ingin membuat perseteruan dengan penduduk asli Tondano yang telah memberinya perlindungan, persahabatan dan merelakan putri-putri mereka memeluk agama islam, bila ia salah memimpin dan megarahkan pengikutnya maka benih islam yang baru ia tanam di jantung Minahasa akan tergilas oleh zending kristen. Meskipun demikian komunitas kampung jawa tondano berusaha ”mengirim” sinyal-sinyal islam ke masyarakat sekitar dengan cara bekerja keras, jujur, bermoral, menjaga etika dan sopan santun yang baik dan lain-lain dalam kerangka hubungan kemanusiaan (hablumminnannas). Strategi ini ternyata efektif karena tahun-tahun berikutnya masih terjadi wanita tondano menikahi anggota pengikut Kyai Modjo dan masuk islam, bahkan terdapat pemuda-pemudanya yang kemudian dengan kesadaran sendiri menjadi muslim. Keturunan dari pemuda-pemuda Minahasa ini hingga kini tetap membawa marga keluarga Minahasanya namun mereka muslim seperti sebagian keluara Karinda, keluarga Tombokan, keluarga Rumbayan.

Kyai Modjo telah membuktikan beliau bukan hanya sekedar ulama fikih saja tetapi lebih dari itu beliau seorang ahli strategi dan kepemimpin. Dan ternyata Pangeran Diponegoro seorang yang bergelar “Jeng Sultan Abdulhamid Herucakra Sayidin Panatagama Khalifah Rasullullah di tanah Jawa” pun tak berdaya menghadapi Belanda tanpa Kyai Modjo.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

mohon postkan juga silsilah keluarga jaton yang lebih lengkap agar para pembaca dari jaton tau bahwa ini tu torang pe silsilah.. jangan cuma bangga membawa nama jaton pas da tanya akang "urang ne sei ren kou" masih dapa jawab mar tanya akang " sei ren tete' mu???" so nda tau mo jawab apa...

Anonim mengatakan...

nyaku pyun ni mbah rahmat zees, kumura nabar ?

Hari djarum―super zees mengatakan...

Kita turunan dari Tumenggung Zees (pajang).. kalo menurut orang tua/kakek2 dulu tumenggung zees/kyai pajang.. beliau itu juga punya gelar.

Hari djarum―super zees mengatakan...

Tumenggung Zees itu juga seorang kyai dari pajang.. itu mbahnya kita. yg anaknya bernama otong.

Petunjuk Menonto Video Secara Lengkap

Bila gambar dan suara agak tersendat atau terputus-putus, maka agar gambar dan musik dapat ditonton dan didengar secara normal harap tunggu setelah komputer anda selesai menstreaming seluruh isi video dalam beberapa menit (1 - 5 menit, tergantung pada jenis komputer anda), kemudian replay (play ulang).

Liputan 6 SCTV 2006: Punnguan Di Kampung Jawa Tondano

Cuplikan Selawat Jowo, Kampung Jawa Tondano

MusicVideo: Waki Tembo Temboan


MusicVideo Jaton : Opo Mana Natas


MusicVideo Jaton: Mesjid & Makam Kyai Modjo


Silsilah Kyai Modjo

Silsilah Kyai Modjo
Silsilah Kekerabatan Kyai Modjo & Cikal Bakal Keluarga Keturunan Mereka di kampung Jawa Tondano

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)