Sabtu, 15 Maret 2008

VI. PROSES “PEMBUANGAN” KYAI MOJO SERTA PENGIKUTNYA DARI SEMARANG – BATAVIA – AMBON - TONDANO (MASARANG)

Meskipun Kyai Modjo dan pengikutnya sudah berada dalam tahanan Belanda di Semarang, Belanda masih khawatir akan resiko pengaruh Kyai modjo di tanah jawa dan kemungkinan melarikan diri dari tahanan kemudian melakukan perlawanan lagi, karena itu Belanda bermaksud membawa Kyai Modjo dan pengikutnya jauh dari tanah jawa,menyeberangi lautan ke Manado. Para petinggi kolonial Belanda di Semarang, Batavia, Ambon dan Manado secara intensif melakukan kontak-kontak untuk secepat mungkin membawa Kyai Modjo dan pengikutnya keluar dari Jawa Tengah. Jalur laut yang dipilih adalah Semarang – Batavia – Ambon – Manado, menggunakan kapal perang dengan pengawalan kuat. Pembuangan tidak langsung dari semarang ke manado karena masih diperlukan persiapan mobilisasi (kesiapan kapal perang), keamanan, akomodasi dan konsumsi yang membutuhkan biaya besar mengingat perjalanan yang jauh.

VI.1 Keputusan Pengadilan Tinggi Belanda : Kyai Modjo sebagai tahanan politik.

Tahap pertama Belanda mengeluarkan Kyai Modjo dan pengikutnya dari Semarang menuju Batavia. Untuk formalitas landasan hukumnya Pemerintah kolonial Belanda kemudian dengan cepat menggelar sidang pengadilan untuk memutuskan status Kyai Modjo dan pengikutnya. Hasil sidang Pengadilan Tinggi Kolonial Belanda adalah (ref. surat dari Menteri Negara Komisaris Jendral tanggal 1 Desember 1828 kepada Letnan Gubernur jendral);

1. Kyai Modjo dan pengikutnya dipenjara dalam bentuk tahanan rumah.

2. Membangun gedung baru sebagai ”rumah tahanan” untuk Kyai Modjo dan pengikutnya,

3. Ir.Tromp ditunjuk sebagai pelaksana pembangunan ”rumah tahanan” tersebut.

4. Menyiapkan 25 orang sedadu Ambon secara bergantian menjaga rumah tersebut.

VI.2 Persiapan Pemberangkatan Kyai Modjo dan pengikutnya ke Batavia.

Persiapan-persiapan pemberangkatan Kyai Modjo dan pengikutnya ke Batavia menyangkut jumlah orang , jumlah kapal dan pengawalan yang dibutuhkan. Kyai Modjo merupakan tawanan yang harus mendapat pengawasan ketat karena ia mempunyai pengaruh besar. H.M van de Poll selaku Kepala Komisaris Negara di Dewan Negara ditunjuk mengurus tawanan perang Kyai Modjo dan pengikutnya.

De Poll diperintahkan membawa semua tawanan negara tersebut dengan kapal Fregat De Belona dipindahkan ke kapal tunggu. Pengurusan kyai modjo dan pengikutnya ditempatkan di kapal Fregat De Belona dan satu kapal tunggu untuk kemudian siap dinaikan ke kapal perang Mercury, semua itu dibawah pengawasan militer, memperlakukan tawanan dengan baik sesuai perjanjian antara Kepala hakim dan Komandan Fregat De Belona, melakukan serah terima tawanan dari pimpinan kapal perang sesuai kesepakatan antara Komandan Angkatan Laut, Kepala hakim Batavia dan Komandan Fregat De Belona.

VI.2 Daftar Pengikut Kyai Modjo yang diberangkatkan.

VI.2.1 Daftar nama tawanan perang yang dibawa kapal Fregat De Belona dari Semarang ke Batavia

1) Kyai Modjo, 2) Baderan (Kyai Baderan), 3) Urawang (Urawan – Ngurawan), 4) Paeyang (Tmg.Zess Pajang), 5) Roso Negoro (Tmg.Reksonegoro), 6)Brojo Yudo, 7) Ishak, 8) Wonopati, 9) Ajali (Gazaly), 10) Tirto Drono, 11) Ngiso (Wiso), 12) Haji Ngali (Haji Ali), 13) Meraji (?), 14) Elias (Elias Zess), 15) Wiro Negoro (?), 16) Merto Mergolo (Tumenggolo, putra Kyai Baderan), 17) Abdul Wahab (?), 18) Kagiman (?), 19) Mansor (?), 20) Mesin (?), 21) Sapeni (Syafei, putra Kyai baderan) 22) Sasi (Kosasih), 23)Abdul Rahman (?), 24)Kusini (Kusen), 25)Samangi (Semangi), 26)Sarijo (?), 27)Abrah (?), 28)Markoh (?), 29)Ngali Imran (Ali Imran), 30)Amat saiman (?), 31)Kasidin (?), 32)Surodrono, 33)AmanWarsiman, 34)Setro Dilogo, 35)Mohamat Tup (Thayeb), 36)Mohamad Ibrahim, 37)Haji Hasan (Kyai Hasan Mochammad ?), 38) So Dirjo, 39)Jogo Prawiro, 40)Budo , 41)Amat Suke, 42)Kasan Niman, 43)Usin , 44)Wahodo.

VI.2.2 Daftar tawanan perang yang berada di kapal tunggu.

1)Sapawi, 2)Kalis, 3)Sonoro, 4)Trayem, 5)Tojoyo, 6)Pali, 7)Saiman, 8)Yunus, 9)Gremis, 10)Beno, 11)Wonorejo, 12)Mangin, 13)Bayer, 14)Bayi, 15)Kertojoyo, 16)Dumiri, 17)Mumin, 18)Adam, 19)Jupri, 20)Diman, 21)Sorogi, 22)Sareman, 23)Setrojoyo, 24)Matsari, 25)Kanafi (Hanafi), 26)Kampret, 27)Kemis, 28)Tolosono, 29)Busu, 30)Abdul Lagem, 31)Tenami, 32)Duko.

VI.3 Kyai Modjo dan pengikutnya dalam tahanan sementara di Batavia.

Kiay Modjo dan kerabat beserta pengikutnya secara bertahap dibawa menuju Klaten, Solo, Salatiga, Semarang, dan Batavia (Jakarta).

VI.3.1 Rombongan Pertama : Kyai Modjo & 76 orang pengikut.

Merujuk pada surat Kepala penjara Batavia kepada Letnan Gubernur Jendral No.994/768 tertanggal 3 Desember 1828, kedatangan rombongan pertama Kyai Modjo dan pengikutnya tiba di Batavia pada tanggal 2 Desember 1828 dengan pengawalan militer sangat kuat, menggunakan tiga kapal perang militer yaitu Mercury, Fregat De Belona dan Fregat Anna Paulona. Dalam rombongan pertama ini tidak termasuk istri Kyai Modjo dan 2 orang saudara Kyai Modjo yaitu adiknya (Kyai Khasan Besari/Imam Agung) dan kakaknya (Kyai Imam Hazaly/Khasan Mochammad ?) – lihat butir 5.3.2. & butir 5.8.

Sesuai dengan kesepakatan semua pihak maka tawanan ini diperlakukan dengan baik serta diperhatikan kebutuhan sehari-harinya. Hal ini perlu karena Kyai Modjo masih mempunyai pengaruh yang kuat. Karena dianggap berbahaya oleh Belanda maka sewaktu berada di BataviaManado. Dengan penempatan tahanan politik di “kantor baru” ini memudahkan penjagaan maupun pemberian layanan, kebutuhan sehari-hari. tidak ditempatkan digedung penjara menyatu dengan tahanan biasa tapi ditempatkan di “kantor baru” sebagai tahanan rumah. Rumah ini dibangun memang khusus untuk menempatkan tahanan politik yang sangat istimewa itu, menunggu ke tempat pembuangan terakhir di Tondano.

Semua biaya yang diajukan itu disetujui oleh Menteri Komisaris Jendral, untuk selanjutnya Kantor Keuangan Negara yang akan melakukan pembayaran. Biaya ini belum termasuk sewa kapal untuk mengangkut tahanan politik ke tempat pembuangan sementara di Maluku (Ambon), biaya hidup yang ditanggung pemerintah untuk para tahanan politik di Manado, pengiriman istri Kyai modjo dimulai dari Semarang hingga Manado menyusul suaminya. Pengiriman ini perlu karena pemerintah menganggap istrinyapun cukup berbahaya.

VI.3.2 Rombongan Kedua ; Empat Orang Pengikut Kyai Modjo Tiba di Batavia.

Ketika Kyai Modjo dan pengikutnya dibawa dari Semarang ke Batavia, masih ada beberapa orang lagi yang masih tertinggal di Semarang. Empat orang diantaranya yang kemudian dibawa ke Batavia menyusul Kyai Modjo dan tiba di Batavia pada akhir Desember 1828. Keempat orang tersebut adalah Kajali, Imam Agung, Bawu dan Kawat sari.

Kedatangan empat orang pengikut Kyai Modjo ini telah menambah pengeluaran pemerintah kolonial untuk keperluan sandang/pangan dan pengamanan seperti terekam dalam dokumen Surat dari hakim Batavia No.15/10 tanggal 2 januari 1829. Surat ini ditujukan kepada Menteri Negara Komisaris perihal permintaan uang kepada pemerintah untuk ;

- Uang saku Kyai Modjo dan pengikutnya sebesar 312,5 gulden.

- Membayar 12,5 pon daging untuk menu makan para penjaga. Perhitungan ini digunakan dengan jatah yang diberikan kepada Kyai Modjo dan pengikutnya berjumlah 87 orang selama tanggal 3 s/d 31 Desember 1828 sebesar 1914 gulden.

- 4 orang pengikut yang baru datang dari Semarang selama tanggal 27 s/d 31 desember 1828 telah menelan biaya 15 gulden.

- Biaya perjalanan Kyai Modjo dan pengikutnya selama berada di kapal Mercury, Belona dan Anna Paulona sebesar 250 gulden.

- Biaya pakaian Kyai Modjo dan pengikutnya (termasuk 4 orang yang datang belakangan) yang dipasok oleh kapten Cina Jap Soanko sebesar 40,5 gulden.

- Keperluan tikar, bantal, bale-bale dan lainnya sebesar 258,40 gulden.

- Total biaya yang diperlukan 3051,15 gulden.

Surat Keputusan Letnan Gubernur Jendral tanggal 6 Januari 1829 No.38 berisi persetujuan atas biaya untuk keperluan Kyai Modjo dan pengikutnya sebesar 3051,15 gulden dan memerintahka Menteri Negara Komisaris Jendral untuk membayar sejumlah tersebut dan memasukannya sebagai biaya perang.

VI.4 Kyai Modjo dan pengikutnya Menuju Ambon (bersama Adipati Anom - putra pangeran Diponegoro).

Semula Letnan Gubernur Jendral Van den Bosh yang baru diangkat (menggantikan De Cock) menginginkan agar Kyai Modjo dan 4 orang pengikutnya yaitu putra Kyai Modjo (Gazaly), Ajali (Imam Hazaly) dan putranya (Wiso/Ngiso, tidak berdua Reksonegoro karena akan menjadi 5 orang - penulis) serta Tirto drono (Suro Drono) tidak dikirim ke maluku tapi cukup di Batavia saja namun tidak disetujui oleh Komisaris Jendral.

Seara bertahap sejak dikeluarkannya Keputusan Letnan Gubernur Jendral tanggal 19 Oktober 1829 No.24 dan 24 Oktober No.18 tahanan politik tersebut sementara dikirim ke Ambon, menunggu kesiapan Manado menerima tahanan politik yang sangat istimewa tersebut sebagai tempat pembuangan terakhir.

Setelah sekitar 10 bulan Kyai Modjo dan pengikutnya berada dan ditahan di batavia, selanjutnya mereka diberangkatkan menuju Ambon dalam dua rombongan. Rombongan pertama menggunakan kapal Belanda ”Thalia”. Tidak ada informasi mengenai tanggal keberangkatan pertama ke Ambon namun penulis memperkirakan pada akhir bulan Oktober 1829.

Daftar nama 48 orang tawanan sesuai Keputusan Letnan Gubernur Jendral Tanggal 19 Oktober 1829 No.8 dikirim ke Ambon menggunakan kapal Thalia : 1) Pangeran Sudiro Kromo (putra P.Diponegoro ?), 2) Ketib Biman (Kyai baderan ?), 3) Wahodo, 4) Ishak, 5) Urawang (Urawan/Ngurawan), 6) Brojo Yudo, 7) Sis (Tumenggung Zes Pajang Mataram, putra Kyai Hasan Besari), 8) Reso Negoro (Tumenggung Reksonegoro), 9) Wonopati, 10) So Dilogo, 11) Joyo Prawiro, 12) Seco Dirjo, 13) Mohammad Ibrahim, 14) Adam Kasani, 15) Abdul rahman, 16) Mohamad Singep, 17) Ngiso (putra Moch.Khasan), 18) Janu, 19) Semangi, 20) Elias (Elias Zes, putra Kyai Hasan Besari), 21) Amat Senawi, 22) Sopani, 23) Maruf, 24) Kasimiman, 25) Ali, 26) Tahip (Thayeb), 27) Hilman Meraji, 28) Trasim, 29) Ngaliniman, 30) Ahmat Pekce (Maspekeh), 31) Kusasi (Kosasih), 32) Sopingi (putra Kyai baderan), 33) Kanafi (Hanafi), 34) Mesir, 35) Mangun, 36) Tamjid, 37) Mandurahman, 38) Sopingi (=no.32), 39) Kerip, 40) Jemari, 41) Kanapi (=no.33), 42) Raniman, 43) Kasriman, 44) Sarijo, 45) Amat Baino, 46) Sibawi, 47) Mohamad Kas(an)iman (Mochammad Khasan?), 48) Wiro Negoro (kepala keamanan kraton ?). Dari dokumen ini terdapat 2 orang yang yang ditulis dua kali (no.38 & no.41) sehingga jumlah sebenarnya adalah 46 orang. (Note: huruf tebal dan garis bawah dari penulis).

Di kapal Thalia tawanan no.1 s/ 21 ditempatkan pada kamar kelas.1, tawanan no.22 s/d 48 ditempatkan di kamar kelas-2.

Bila perjalanan batavia – Ambon membutuhkan waktu 2 bulan maka rombongan pertama ini diperkirakan tiba di Ambon pada bulan Desember 1829.

Sementara ke 48 pengikut Kyai Modjo dikirim ke Ambon pada tahap I, Kyai Modjo dan beberapa pengikut masih berada di penjara polisi Batavia, ditempatkan pada :

Kamar kelas 1 : Kyai Modjo, Ajali (Gazaly), Rojali, Hazaly.

Kamar kelas 2 : Tirto Drono.

Kamar kelas 3 : 37 pengikut.

Pengiriman Kyia Modjo dan sisa pengikutnya ke Ambon dilakukan pada tahap II, nampaknya dilakukan pada awal bulan Pebruari 1830 (sebulan sebelum Belanda mengadakan perundingan dengan Pangeran Diponegoro dan kemudian menangkapnya), setelah kapal Thalia kembali ke Batavia dari mengangkut rombongan tawanan tahap I ke Ambon, seperti tersirat dalam dokumen berikut.

Surat Direktur Lands Producten en Civile Magazijn tanggal 19 Pebruari 1830, ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral memberitahukan bahwa ref. Resolusi bersama antara Letnan Gubernur Jendral dan Hooge Regeering tanggal 29 Januari 1830 No.1, Direktur Lands Producten en Civile Magazijn mengajukan kuasa mengirim para tawanan menuju Ambon dari Batavia dengan kapal sewaan Mostora dengan juru mudi L.I.Psluger dan dikawal dengan kapal Thalia.

VI.5 Kyai Modjo dan pengikutnya Tiba di Ambon

Rombongan kedua (termasuk Kyai Modjo di dalamnya) diperkirakan tiba di Ambon pada awal bulan April 1830, seperti tersirat pada Surat Gubernur Maluku Tanggal 20 April 1830 No.32 yang ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral tentang :

a. kedatangan Kyai Modjo, Ajali (Gazaly), Rosali alias Hajali (Hazaly) dan 22 orang pengikut, semuanya berjumlah 25 orang. Dari 22 orang pengikut 10 orang diantaranya meninggal di perjalanan dan 1 orang meninggal setelah 2 hari tiba di Ambon. Pengikut yang meninggal tersebut adalah : 1) Mansur, 2) Saman, 3) Saeru Drono, 4) Adam, 5) Termis, 6) Hunus, 7) Citro Joyo, 8) Kuncung, 9) Setro Wijoyo, 10) Proyo Truno alias Sanogo, 11) Kasidin (meninggal di Ambon).

Bila nama Rosal (Rojali) sama orangnya dengan Hajali (Hazaly), maka jumlah tawanan yang masih tertinggal di batavia - ketika rombongan pertam diberangkatkan ke Ambon adalah 41 orang (Lihat 5.4 surat no.8) sehingga ada 16 orang yang tidak turut ke Ambon, kemungkinan mereka tetap atau meninggal di Batavia atau dikirim pada tahap ke 3 (wallahu alam).

b. Permintaan bantuan makanan dan pakaian dengan biaya setiap hari sebagai berikut;

- 1 gulden :Kyai Modjo

- 1 gulden :Ajali (Gazaly), Rosali (Hazaly) & Tirto Drono.

- 1 gulden : 11 orang pengikut.

Selain itu masih ditambah masing-masing 3 gulden per hari.

(Note: sebagai perbandingan gaji seorang patih di Surakarta 1000 gulden/bunan, Sartono Kartodirdjo ,1973).

c. Sesuai resolusi tanggal 29 januari 1830 No.2, tahap selanjutnya para tawanan akan dikirim ke Manado.

VI.6 Kyai Modjo dan pengikutnya diberangkatkan dari Ambon ke Manado.

Kyai Modjo dan pengikutnya berada di Ambon hanya sekitar 1 bulan, selanjutnya mereka diberangkatkan ke tempat pengasingan terakhir Manado.

Mengenai putra Pangeran Diponegoro, dia tidak ikut serta ke Menado tetapi tetap tinggal di Ambon hingga wafat di sana.

VI.7 Kyai Modjo dan Pengikutnya Tiba di Manado.

Tidak ada dokumen di Arsip Nasional Indonesia (ARNI) yang menginformasikan tanggal kedatangan Kyai Modjo dan pengikutnya di Manado. Namun menurut suatu study (Babcock,1989) mereka tiba di Manado (Pelabuhan Amurang ?) pada bulan Mei 1830.

Letnan Belanda yang mengawal selama perjalanan dari Surakarta sampai di Manado melaporkan bahwa Kiay Modjo dan pengikutnya sering menyanyikan lagu-lagu (Zikir Qolibah ?) yang diambil dari Alquran.

VI.8 Tentang Istri Kyai Modjo : Diasingkan Menyusul Kyai Modjo ke Tondano.

Setelah penangkapan Kyai Modjo pada Nopember 1828, istri Kyai Modjo tinggal di Bojonegoro, Keresidenan Rembang. Beliau mencoba datang ke kraton namun ditolak oleh petinggi kraton.

Keberadaannya di tanah jawa masih dianggap berbahaya oleh Belanda dan diasingkan ke Tondano menyusul suaminya – Kyai Modjo ke Tondano pada tahun 1831. nama sebenarnya tidak diketahui, namun di Tondano beliau dikenal dengan sebutan ”mbah wedok” (mbah perempuan) saja.

Keadaan ”mbah wedok” setelah penangkapan Kyai Modjo terekam dalam dokumen berikut :

1. Surat Residen Kedu (Lawick van Pabst) tanggal 12 Pebruari 1831 No.6.

Surat ditujukan kepada Komisaris Raja-Raja Jawa di Yogyakarta, isi surat melaporkan :

a. Istri Kyai Modjo telah datang ke Yogya tapi dilarang masuk oleh para penguasa kraton karena dianggap berbahaya.

b. Residen Kedu telah mengadakan pertemuan dengan para penguasa kraton dan mendapat keterangan bahwa penguasa kraton tidak bertanggung jawab terhadap wanita itu.

c. Penguasa kraton tidak yakin dapat menjaga wanita itu di kraton karena telah terbukti wanita itu telah pergi ke Distrik Padangan untuk bertemu dengan Raden Ronggo – tokoh ini pada pemerintahan Daendels pernah memberontak disebuah gunung.

d. Di tempat Raden Ronggo, wanita ini memanfaatkan waktunya memuja Raden Ronggo sebagai Nabi sambil menghasut kemarahan penduduk, dan wanita ini berhasil mendapat pengikut dan dicintai pengikutnya.

e. Residen Kedu mengusulkan agar istri Kyai Modjo ini segera dikirim ke Manado berkumpul dengan suaminya di sana.

2. Surat Komisaris Raja-Raja Jawa tanggal 16 Pebruari 1831 No.8.

Surat ditujukan kepada kedua penguasa kerajaan di Jawa, isi surat :

  1. Istri Kyai Modjo sesudah akhir Perang jawa, tinggal di Bojonegoro, Keresidenan Rembang. Kemudian berita terakhir ia berada di Keresidenan Madiun, lalu mendapat ijin selama beberapa bulan di Yogy. Ternyata selama 2 bulan ia beserta pengikutnya sulit ditemukan.
  2. Residen Kedu melalui suratnya tanggal 12 Pebruari 1831 No.6 telah mengusulkan agar istri Kyai Modjo ini segera dikirim ke Manado berkumpul dengan suaminya di Manado.
  3. Sehubungan dengan hal itu, mohon Lawick van Pabst diberi ijin mengurus (mengirim) wanita itu (ke Manado).

3. Surat Komisaris Raja-Raja Jawa tanggal 16 Pebruari 1831 No.46.

(Surat ditujukan kepada Residen Kedu) menugaskan Residen Kedu mengirim istri Kyai Modjo besok hari, dari Magelang ke Semarang dengan pengawalan prajurit bersenjata lengkap selama dalam perjalanan, walaupun ini merupakan penghinaan karena dikirim dari Magelang bukan Yogyakarta (maksudnya krabat kraton sudah tidak mempedulikan istri Kyai Modjo, padahal ia adalah mantan istri (janda cerai) Pangeran Mangkubumi – adik seorang Raja Jawa; HB III – penulis).

VI.9 Nasip Sentot, Mangkubumi dan Diponegoro paskah penangkapan Kiay Modjo.

Sejak Kyai Modjo ditangkap dan pada Nopember 2008, pada awal tahun 1829 Diponegoro menyatakan kesediaannya berunding tanpa melepas tuntutannya untuk tetap diakui sebagai panatagama. Berturut-turut, sesudah itu menyerahlah Pangeran Mangkubumi (September 1829), dan Sentot (Oktober 1829), yang menyatakan siap sedia mencurahkan tenaga bagi bala tentara Belanda.

Tertangkapnya Kiay Modjo pada tanggal 12 Nopember 1828 memberikan pukulan yang berat pada Pangeran Diponegoro. Sebaliknya Belanda sangat bersuka cita karena dengan demikian pilar utama Pangeran diponegoro sudah runtuh. Tinggal dua pilar Pangeran Diponegoro yang harus dilumpuhkan yaitu panglima pemberani; Sentot Alibasyah Prawirodirdjo (saat itu berumur sekitar 20 tahun) dan Pangeran Mangkubumi.

Belanda berusaha mengontak Sentot dan memberikan janji yang muluk-muluk agar mau menghentikan perlawanan. Sentot terpengaruh dan pada tanggal 17 Oktober 1829 Sentot menghentikan perlawanan. Barangkali karena umurnya yang masih belia dan dendamnya sudah tersalurkan, ia akhirnya, dengan imbalan materi dari Belanda, bersedia meletakan sejata pada tanggal 17 Oktober 1829. Bahkan selanjutnya sebagai tentara bayaran Belanda, Sentot dikirim ke Sumatra Barat memerangi saudara muslimnya sendiri dalam perang Padri. Usaha Sentot untuk kembali ke Jawa setelah usai perang padri tidak dikabulkan oleh Belanda. Dan di Bengkulu Sentot menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 17 April 1855 dalam usia 48 tahun.

Pangeran Mangkubumi yang saat itu sudah berusia sepuh (70 tahun) dan anak istrinya disandera oleh Belanda akhirnya menyerah pada tanggal 28 September 1829.

Dengan tertangkap dan menyerahnya tokoh-tokoh pendukung utamanya maka posisi Pangeran Diponegoro menjadi sangat sulit sehingga mudah bagi Belanda memperdayainya. Dengan menggunakan cara yang sama ketika memperdayai Kiay Modjo dan Sentot, Belanda kembali menyusun siasat untuk menangkap Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro yang paham bahwa posisinya sudah lemah akhirnya bersedia berunding dengan Belanda. Dengan menggunakan pengaruh kebangsawanannya dan pimpinan perang tertinggi beliau berusaha mempengaruhi Belanda untuk tunduk pada keinginannya sebagai kompensasi perdamaian, atau akan terus berperang. Namun Belanda menganggap ancaman Diponegoro tersebut sebagai gertakan saja. Belanda tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu; Pangeran Diponegoro harus ditangkap tanpa syarat.

Pada Februari 1830 terjadi perundingan antara Pangeran Diponegoro dengan Van de Kock. Perundingan itu sempat ditunda karena Diponegoro tak bersedia berunding selama bulan puasa. Diponegoro diundang ke Magelang untuk berunding dengan jaminan, jika perundingan gagal, maka Diponegoro dibolehkan kembali ke tempatnya dengan aman. Perundingan diadakan pada saat perayaan Idul Fitri tanggal 28 Maret 1830. Namun sebenarnya perundingan itu adalah jebakan belaka karena de Kock sudah mengatur siasat liciknya yaitu sebelum memasuki wilayah perundingan pasukan Diponegoro dilucuti senjatanya. Pangeran Diponegoro diundang ke rumah Residen Kedu di Magelang guna meneruskan perundingan antara pihak Pangeran Diponegoro dan pihak Belanda, namun tidak tercapai kesepakatan. Ketika pihak Pangeran Diponegoro akan meninggalkan tempat perundingan untuk meneruskan peperangan, Belanda menggunakan kekuatan militernya dan memaksa Pangeran Diponegoro untuk menyerah atau dibunuh. Siasat licik Belanda untuk kesekian kali telah memperdaya Kiay Modjo dan Pangeran Diponegoro.

Dalam perundingan, Diponegoro ternyata masih berkeras dengan tuntutannya sehingga ia ditawan dan dibawa ke Ungaran, kemudian ke Semarang untuk selanjutnya 8 April 1830 sampai di Jakarta dan ditawan di Stadhuis, pada 3 Mei 1830 melalui pelabuahan Batavia diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado. Di Manado ditawan di benteng Amsterdam, Pangeran Diponegoro hanya empat tahun karena Belanda menganggap penjagaan di Manado kurang kuat.

Diponegoro dipindah ke benteng Rotterdam di Makasar (kini Ujungpandang) tahun 1834, sampai wafatnya, 8 Januari 1855, dalam usia 70 tahun, dan dimakamkan di kampung Melayu Makassar.

Demikianlah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro. Selanjutnya Pangeran Diponegoro dan pengikutnya dibawa menuju Semarang kemudian Batavia dan tiba di Batavia (Jakarta) pada tanggal 8 April 1830. Selanjutnya pada tanggal 3 Mei 1830 mereka diberangkatkan dari Batavia menuju Manado dengan menggunakan kapal Belanda “Polux”. Selain Pangeran Diponegoro dalam kapal tersebut juga ikut istrinya (RA Ratnaningsih), saudara wanita dan suaminya (RA Dipasana, Tmg.Dipasana), pengawal dan pelayan laki-laki (Wangso Taruno alias Sataruno, Anggamerta, Rajamenggala, Rata Djoyosuroto, Bambang Mertosono alias Merta Leksono, Achmad Banteng Wareng, Saiman, Kasiman, Tiplak, Nurhamidin), pengikut perempuan ; Nyai Dula (ibu dari Rata Djoyosuroto), Nyai Anggamerta, Nyai Sataruna, Sarinten, Truna Danti, Nyami). Sedangkan anak-anak Pangeran Diponegoro tertinggal di Jawa. Rombongan Pangeran Diponegoro tiba di Manado pada tanggal 12 Juni 1830 dan di tahan di Benteng Belanda “Amsterdam” selama 4 tahun. Selama di Manado Pangeran Diponegoro tidak pernah bertemu dengan Kiay Modjo yang berada di Tondano. Dilaporkan waktu di Manado Pangeran Diponegoro mengirimkan bantuan uang kepada Kiay Modjo, tetapi dikembalikan lagi oleh Kiay Modjo. Pada tahun 1834 Pangeran Diponegoro berikut pengawal dan pelayannya dipindahkan ke Makasar (Ujungpandang) dan ditahan di Benteng “Roterdam” hingga wafat di sana pada tanggal 8 Januari 1855 dalam usia 70 tahun.

Pada selang tahun 1835 – 1840 sebagian pengikut Pangeran Diponegoro yang laki-laki (Sataruno, Djoyosuroto, Mertosono, Nurhamidin, Banteng Wareng) kembali ke Manado (Kampung Jawa Tondano) kemudian menikah dan memiliki keturunan di sana.


Tidak ada komentar:

Petunjuk Menonto Video Secara Lengkap

Bila gambar dan suara agak tersendat atau terputus-putus, maka agar gambar dan musik dapat ditonton dan didengar secara normal harap tunggu setelah komputer anda selesai menstreaming seluruh isi video dalam beberapa menit (1 - 5 menit, tergantung pada jenis komputer anda), kemudian replay (play ulang).

Liputan 6 SCTV 2006: Punnguan Di Kampung Jawa Tondano

Cuplikan Selawat Jowo, Kampung Jawa Tondano

MusicVideo: Waki Tembo Temboan


MusicVideo Jaton : Opo Mana Natas


MusicVideo Jaton: Mesjid & Makam Kyai Modjo


Silsilah Kyai Modjo

Silsilah Kyai Modjo
Silsilah Kekerabatan Kyai Modjo & Cikal Bakal Keluarga Keturunan Mereka di kampung Jawa Tondano

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)