Minggu, 16 Maret 2008

VII. KYAI MODJO & PENGIKUTNYA TIBA DI MANADO

7.1 Tinjauan Singkat Sejarah Minahasa.

Sebutan untuk masyarakat Sulawesi Utara adalah orang Minahasa. Minahasa bukanlah nama suatu etnik, melainkan sebuah sebutan atau istilah yang pertamakali muncul dalam laporan residen J.D Schierstein pada tanggal 8 Oktober 1789. Pada saat itu terjadi perjanjian perdamaian yang mempersatukan kelompok-kelompok sub etnik Bantik dan Tombolu (Tateli) dan kelompok Toulour dan kelompok Tonsawang. Minahasa berasal dari kata esa yang berarti satu, kata Maha –esa berarti menyatukan berbagai sub-etnik Minahasa. Terdapat delapan etnis yang merupakan penduduk asli Sulawesi Utara. Kedelapan Sub etnis tersebut adalah : Toulour/ Tondano, dengan dialek Tondano yang mendiami daerah bagian timur dan pesisir danau Tondano ; Totemboan, dengan dialek Totemboan yang mendiami daerah barat daya dan Selatan Danau Tondano ; Tonsea, dengan dialek Tonsea yang mendiami sekitar bagian timur laut ; Tombolu, dengan dialek tombolu yang mendiami daerah sekitar barat laut danau Tondano ; Tonsawang/Tonsini, dengan dialek dan bahasa Tonsawang yang mendiami daerah bagian tengah Minahasa atau bagian Selatan daerah Tombatu ; Pasan/Ratahan, dengan dialek – bahasa Ratahan yang mendiami daerah bagian timur sebelah Selatan ; Ponosokan, dengan dialek-bahasa Ponosakan yang mendiami daerah bagian selatan ; Bantik, dengan dialek Bantik yang mendiami atau tersebar di pesisir utara dan selatan kota Manado.

Secara geografis Minahasa berada pada lereng pegunungan Masarang yang diapit Gunung Soputan dan Gunung Lokon.

7. 2 Pemimpin Minahasa (Tempo Dulu)

Pemimpin Minahasa jaman tempo dulu terdiri dari dua golongan yakni Walian dan Tona’as. Walian mempunyai asal kata “Wali” yang artinya mengantar jalan bersama dan memberi perlindungan. Golongan ini mengatur upacara agama asli Minahasa hingga disebut golongan Pendeta. Mereka ahli membaca tanta-tanda alam dan benda langit, menghitung posisi bulan dan matahari denga patokan gunung, mengamati munculnya bintang-bintang tertentu seperti “Kateluan” (bintang tiga), “Tetepi” (Meteor) dan sebagainya untuk menentukan musim menanam. Menghafal urutan silsilah sampai puluhan generasi lalu, menghafal ceritera-ceritera dari leluhur-leluhur Minahasa yang terkenal dimasa lalu. Ahli kerajinan membuat pelaratan rumah tangga seperti menenun kain, mengayam tikar, keranjang, sendok kayu, gayung air.
Golongan kedua adalah golongan Tona’as yang mempunyai kata asal “Ta’as”. Kata ini diambil dari nama pohon kayu yang besar dan tumbuh lurus keatas dimana segala sesuatu yang berhubungan dengan kayu-kayuan seperti hutan, rumah, senjata tombak, pedang dan panah, perahu. Selain itu golongan Tona’as ini juga menentukan di wilayah mana rumah-rumah itu dibangun untuk membentuk sebuah Wanua (Negeri) dan mereka juga yang menjaga keamanan negeri maupun urusan berperang.

Pengertian walak menurut kamus bahasa Tontemboan yang dikutip Prof G.A. Wilken tahun 1912 dapat berarti (1) Cabang keturunan (2) Robongan Penduduk (3) Bahagian Penduduk (4) Wilayah kediaman cabang keturunan. Jadi Walak mengandung dua pengertian yakni Serombongan penduduk secabang keturunan dan wilayah yang didiami rombongan penduduk secabang keturuan. Kepala Walak artinya pemimpin masyarakat penduduk secabang keturunan, TU’UR IMBALAK artinya wilayah pusat kedudukan tempat pertama sebelum masyarakat membentuk cabang-cabang keturuan. MAWALAK artinya membahagi tanah sesuai banyaknya cabang keturunan. IPAWALAK artinya membahagi tanah menurut jumlah anak generasi pertama, tidak termasuk cucu dan cicit.

Penelitian G.A. Wilken ini membantah laporan residen Belanda Wensel yang menulis bahwa arti kata WALAK dari bahasa Melayu BALOK karena KAPALA WALAK Minahasa harus menyediakan Balok kayu untuk pemerintah Hindi Belanda abad 18. Kata Walak adalah kata Minahasa asli di wilayah Tontemboan, Tombuluk, Tonsea dan Topndano. Jumlah Walak di Minahasa sebelum jaman Belanda tahun 1679 tidak kita ketahui, ketika Minahasa mengikat perjanjian dengan VOC Belanda, terdapat 20 Walak di Minahasa. Memasuki abad 19, jumlah Walak di Minahasa ada 27 (Yessy Wenas, 2000).

Agama Kristen pertamakali masuk di Manadotua, kemudian ke teluk manado dan Kepulauan sangihe & Talaut pada sekitar tahun 1560 bersamaan dengan masuknya perdagangan Portugis di daerah itu. Sedangkan di daerah Manado dimulai tahun 1822 oleh Misionaris L.Lammers, kemudian Kema dan Tondano tahun 1833 (Misionaris Muller & J.F Reidel) serta Langowan tahun 1831(J.G Schwarz).

Di Minahasa sejak dahulu tidak mengenal adanya pemerintahan yang diperintah oleh raja. Yang ada adalah:

Walian :Pemimpin agama / adat serta dukun

Tonaas atau Kepala Walak : Orang keras, kewanuaan, kepala msayarakat.

Teterusan : Panglima perang

Potuasan : Penasehat


7.3 Keadaan Politik Hindia Belanda di Minahasa pada tahun 1839 – 1848
Pada era ini Menado adalah bagian Administratif dari kepulauan Maluku bersama dengan kepulauan Ambon dan kepulauan Banda. Menurut administrasi Pemerintah Belanda afdeeling Menado dibagi menjadi 4 kawasan : Minahasa, negeri-negeri di jazirah utara dan barat, negeri-negeri di tepi pantai selatan teluk tomini dan kepulauan Sangihe & Talaut. Residennya berkedudukan di Menado.
Pembantu-pembantunya terdiri atas seorang gezaghebber di Gorontalo dan 3 opziener di Amurang, Kema dan Tondano. Sebelum tahun1817 afdeeling Menado ada di bawah pemerintahan Gubernur Ternate dan Kepulauan Sangihe & Talaut sampai 1825 menjadi bagian dari Pemerintahan Ternate. Wilayah Minahasa langsung diperintah oleh Residen Menado, dan terbagi menjadi 28 negeri, satu diantaranya negeri Tondano. Tiap-tiap negeri diperintah oleh 2 orang kepala pribumi yang bergelar hukum mayor (tonaas), yaitu hukum pertama dan hukum kedua. Kepala-kepala negeri ini tidak mendapat gaji dari Pemerintah Belanda.

Menurut kontrak antara para Hukum dan Pemerintah Belanda tertanggal 14 September 1810 rakyat di tiap-tiap negeri di Minahasa diwajibkan menjual beras dan benang gumusi (gumutu ?) kepada Pemerintah Belanda dalam jumlah dan harga tertentu, dan sejak 1822 diwajibkan menanam kopi. Khusus untuk daerah Ponosakan diwajibkan menyerahkan emas.

7.4 Masyarakat Asli Tondano Pada Sekitar Tahun 1830.

Masyarakat asli Tondano umumnya hidup dari hasil bumi yang tumbuh karena kesuburan tanahnya, bukan karena sengaja diolah. Masyarakat Tondano adalah masyarakat yang masa itu dikenal dengan sebutan alifuru – penganut kepercayaan animisme. Tanaman pohon enau atau sagu (sejenis palm) banyak ditanam orang-orang Minahasa di masa itu karena selain menghasilkan getah padat pada pucuk bagian dalam pohon (disebut sagu – makanan pokok orang Minahasa waktu itu), juga menghasilkan cairan yang rasanya manis dan langsung dapat diminum (saguer).

Meskipun agama Kristen telah masuk ke Sulawesi Utara pada abad ke 17 namun di Minahasa Zending kristen mulai intensif menyebarkan agama kristen di Minahasa pada periode tahun 1835 – 1865.

7.5 Kyai Modjo dan Pengikutnya Tiba di Manado.

Kyai Modjo dan pengikutnya, semuanya laki-laki berjumlah 63 orang tiba di Manado dari Ambon pada sekitar bulan Mei 1830. Kapal mereka berlabuh di salah satu pelabuhan yang ada waktu itu (Manado, Amurang atau Kema). Dalam rombongan tersebut ikut serta 9 orang kerabat Kyai Modjo yaitu;

1. Kyai Baderan (kyai Ketib Biman ?) : saudara kandung Kyai Modjo.

2. Gazaly : anak Kyai Modjo.

3. Tumenggung Reksonegoro(Kyai Pulukadang) : kemenakan Kyai Modjo.

4. Wiso (adik Tmg Reksonegoro) : kemenakan Kyai Modjo.

5. Tumenggung Zes Pajang Mataram : kemenakan Kyai Modjo.

6. Elias (adik Tumenggung Zes) : kemenakan Kyai Modjo.

7 Tumenggolo (anak Kyai Baderan) : kemenakan Kyai Modjo.

8.Syafei alias Sopingi (anak Kyai Baderan) : kemenakan Kyai Modjo

9. Rajes (anak Kyai Baderan) : kemenakan Kyai Modjo

Anak Kyai Modjo dan 8 orang kemenakannya ketika itu baru berusia antara 15 – 20 tanun, sedangkan Kyai modjo sendiri berusia sekitar 38 tahun. Kyai Modjo memang sangat muda ketika berkecamuk perang jawa (ia ketika itu masih berusia 35 tahun) namun kesaktian dan keulamaannya terkenal di seantero tanah jawa.

Tidak ada komentar:

Petunjuk Menonto Video Secara Lengkap

Bila gambar dan suara agak tersendat atau terputus-putus, maka agar gambar dan musik dapat ditonton dan didengar secara normal harap tunggu setelah komputer anda selesai menstreaming seluruh isi video dalam beberapa menit (1 - 5 menit, tergantung pada jenis komputer anda), kemudian replay (play ulang).

Liputan 6 SCTV 2006: Punnguan Di Kampung Jawa Tondano

Cuplikan Selawat Jowo, Kampung Jawa Tondano

MusicVideo: Waki Tembo Temboan


MusicVideo Jaton : Opo Mana Natas


MusicVideo Jaton: Mesjid & Makam Kyai Modjo


Silsilah Kyai Modjo

Silsilah Kyai Modjo
Silsilah Kekerabatan Kyai Modjo & Cikal Bakal Keluarga Keturunan Mereka di kampung Jawa Tondano

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)