Jumat, 28 Maret 2008

VIII. KYAI MODJO & PENGIKUTNYA TIBA DI (KAMPUNG JAWA) TONDANO

8.1. Long March Manado - Tondano.

Dari Menado mereka ”long March” menuju tempat yang sudah ditentukan oleh Pemerintah Hindia Belanda, yaitu Distrik Tonsea Lama. Dipilih Tonsea Lama karena di Distrik ini Belanda mempunyai satu detasemen tentara Belanda dan prajurit sewaan dari orang-orang Ambon dan mereka akan digunakan juga untuk menjaga Kyai Modjo dan pengikutnya.

Di Tonsea lama Kyai Modjo tidak berkenan ditempatkan di tempat ini, dan mengusulkan tempat lain. Belanda menyetujui tetapi tidak boleh jauh dari Tonsea lama.

8.2 Kyai Modjo & Pengikutnya Tiba di Tondano.

Konon menurut cerita (oral history) dari ”orang-orang tua” yang pernah penulis dengar, untuk menentukan tempat menetap terakhir Kyai Modjo menyembelih seekor sapi/lembu dan sebagian potongan-potongan daging lembu tersebut diletakan dibeberapa tempat di sekitar Tonsea Lama. Tempat dimana daging paling lama membusuk akan dipilih menjadi tempat menetap permanen, dan tempat itu sekarang dikenal sebagai Kampung Jawa Tondano, hanya berjarak kurang dari 5 km dari Tonsea Lama. Tanah tersebut semula adalah milik Kepala Distrik (Kepala Walak/Tona’as) Tondano.

Pada masa itu kondisi alam Minahasa khususnya Tondano masih bersih dan alamiah, tidak ada polusi sehingga dapat dikatakan kecuali bakteri pembusuk, lingkungan alam sangat menentukan suatu tempat lebih sehat dari yang lain.

Istri Kyai Modjo (mbah Wedok) menyusul tiba di Tondano bergabung dengan Kyai Modjo diperkirakan setahun kemudian, pada medio tahun 1831, kemungkinan beliau di”kirim” dari Jawa satu rombongan dengan Pangeran Diponegoro.

Dengan demikian Kyai Modjo dan pengikutnya (semuanya laki-laki) dapat dikatakan sebagai ”Founding Fathers” kampung Jawa Tondano. Dewasa ini orang-orang yang menetap dan/atau ber(mu)asal dari kampung itu populer dengan sebutan orang JATON.

Secara formal administratif tidak diketahui sejak kapan sebutan Kampung Jawa Tondano mulai digunakan namun diperkirakan pada awal abab 19. Dalam tulisan ini dianggap keberadaan Kampung Jawa Tondano dimulai ketika Kyai Modjo dan pengikutnya menginjakkan kaki mereka di sana.

Saat ini secara administaratif, Kampung Jawa Tondano terletak di Kabupaten Minahasa Selatan, Kecamatan Tondano Utara.

8.3 Tanah (Kampung Jawa) Tondano Adalah Pemberian Negara (Hindia Belanda).

Residen Menado mengunjungi Kampung Jawa Tondano pada bulan Oktober 1831 setelah lebih setahun Kyai Modjo dan pengikutnya berada di sana. Di kampung Jawa Tondano Residen Menado menemui dan berbicara dengan Kyai Modjo. Pada kesempatan itu Residen memberitahukan bahwa tanah yang ditempati Kyai Modjo dan pengikutnya dan tanah yang mereka gunakan untuk bercocok tanam akan diberikan kepada mereka sebagai pemberian negara. Pemerintah Hindia akan membeli tanah tersebut dari pemiliknya (Kepala Distik Tondano) namun Kepala Distrik Tondano tidak mau dibayar sebagai ganti rugi tanahnya yang diambil oleh negara untuk penempatan tahanan negara. Kepala Distrik Tondano rela memberikan tanahnya kepada Kyai Modjo dan pengikutnya tanpa ganti rugi. Di tempat itu kemudian dibangun mesjid yang pengerjaannya dilakukan oleh Kyia Modjo dan pengikutnya.

Apa yang telah dilakukan Kepala Distrik tersebut mencerminkan adanya persabatan dan sangat menerima kedatangan Kyai Modjo dan pengikutnya di Tondano. Keberadaan Kyai Modjo dan pengikutnya di Tondano dalam waktu sangat singkat (baru1 tahun).telah ”mencuri” hati penduduk asli sekitarnya sehingga penduduk asli disitu menghormati dan mencintai Kyai Modjo.

Memang keberadaan Kyai Modjo dan pengikutnya di Tondano telah memberi dampak sangat positif pada penduduk asli disekitarnya, penduduk arafuru bekerja lebih baik karaena ”orang-orang Jawa” mengajari mereka cara yang baik bercocok tanam.

Peristiwa bersejarah di atas terekam dalam Surat Residen Menado ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral di Batavia tertanggal 18 Oktober 1831 No.235 dan Surat Direktur Lands Producten en Civile Magazijne ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral di Batavia tertanggal 14 Juni 1839 No.2520.

2 komentar:

Kyai modjo mengatakan...

saya coba publikasi halaman anda krn sangat bagus..dan sangat disukai teman-teman,,tx

Alffian Walukow mengatakan...

Mungkin Bukan Arafuru tapi Alifu
ru. Mulai saat ini mulailah berucap terima kasih pada keturunan Kepala Distrik Tondano yg rela memberikan Tanah untuk hidup matinya keluarga Besar Kyai Modjo di Tondano.Orang Minahasa pe bae terkadang disalah artikan. Semoga Jaton dan Wulauan jangan lagi berselisih. Damai itu Indah.

Petunjuk Menonto Video Secara Lengkap

Bila gambar dan suara agak tersendat atau terputus-putus, maka agar gambar dan musik dapat ditonton dan didengar secara normal harap tunggu setelah komputer anda selesai menstreaming seluruh isi video dalam beberapa menit (1 - 5 menit, tergantung pada jenis komputer anda), kemudian replay (play ulang).

Liputan 6 SCTV 2006: Punnguan Di Kampung Jawa Tondano

Cuplikan Selawat Jowo, Kampung Jawa Tondano

MusicVideo: Waki Tembo Temboan


MusicVideo Jaton : Opo Mana Natas


MusicVideo Jaton: Mesjid & Makam Kyai Modjo


Silsilah Kyai Modjo

Silsilah Kyai Modjo
Silsilah Kekerabatan Kyai Modjo & Cikal Bakal Keluarga Keturunan Mereka di kampung Jawa Tondano

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)