Minggu, 11 Mei 2008

X. TOKOH NUSANTARA LAINNYA YANG DIASINGKAN KE JATON (1846 - 1900) PASCA KYAI MODJO

Abab 18 adalah pucak perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di Nusantara. Perlawanan terhadap Belanda ini umumnya bersifat kedaerahan dengan berbagai macam sebab seperti kekecewaan satu pihak karena keberpihakan Belanda pada pihak yang lain, eksploitasi masyarakat, pemaksaan hukum-hukum Belanda yang merecoki budaya dan syariat islam dan lain-lain.

Akibatnya beberapa tokoh agama islam yang dipandang dapat membahayakan kepentingan Belanda di daerah ditangkapi dan diasingkan, beberapa diantaranya di “buang” ke Minahasa pada periode 1845 – 1900. Mereka berasal dari daerah yang sekarang ini disebut Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Selatan dan Sumtera Utara (Aceh). Meskipun total jumlah mereka tidak sebanyak kelompok Kyai Modjo, hanya sekitar 15 orang, namun keberadaan mereka di Kampung jawa Tondano dan sekitarnya dengan membawa kebudayaan mereka telah turut mempengaruhi budaya termasuk penganan masyarakat kampung Jawa Tondano dikemudian hari.

Kelompok yang datang kemudian ke Kampung Jawa Tondano tersebut adalah:

Tahun 1846 : Kyai Hasan Maulani (Asal Lengkong Cirebon)

Pada seperempat abad 18 tarekat syattariyah adalah tarekat yang paling tersebar luas di daerah Banyumas. Diperkirakan, tarekat ini bersumber dari murid-murid Syekh Abdul Mukhyi, Garut, seorang mursyid tarekat Syattariyah yang mendapatkan ijazah irsyad-nya dari Syekh Abdurrauf Singkel, Aceh. Di Banyumas, Syattariyah menciptakan varian baru yang menggabungkan beberapa ajaran tarekat lain, seperti Rifaiyah dan Naqsabandi-Qodiriyah. Tarekat ini dikenal dengan nama tarekat Akmaliyah/Kamaliyah. Kyai Hasan Maulani adalah guru sekaligus pendiri tarekat Akmaliyah di Cirebon.

Mendasarkan pada studi Drewes, Bruinessen dan Steenbrink menyatakan bahwa Akmaliyah merupakan tarekat yang kental dengan ajaran wahdatul wujud dan sinkretisme Jawa.

Banyaknya pengikut tarekat Akmaliyah menakutkan penguasa saat itu. Hal ini mendorong Belanda membuang Kyai Hasan Maulani ke Tondano pada tahun 1846.

Tahun 1848 : Pangeran Ronggo Danupoyo (Asal Surakarta Jawa tengah)

Pangeran Ronggo Danupoyo adalah anak dari Pangeran aryo Danupoyo atau cucu dari Sunan Pakubuwono IV di Surakarta Jawa Tengah. Beliau menentang kebijakan Belanda, dank arena itu ia dibuang ke Tondano. Di kampung Jawa Tondano Ronggo Danupoyo menikah dengan putri dari Suratinoyo dan memperoleh 6 orang anak, satu anaknya kembali ke Jawa sedangkan 5 anaknya yang lain (2 laki dan 3 perempuan) tetap tinggal di kampong Jawa Tondano. Dari 2 orang anak laki-lakina (Raden Glemboh dan Raden Intu) menurunkan keluarga (fam) Danupoyo sekarang ini.

Tahun 1850-an : Imam Bonjol (Asal Sumatra Barat)

Peto Syarif yang kemudian lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol dilahirkan pada tahun 1772 di Kampung Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman Sumatra Barat. Ia dilahirkan dalam lingkungan agama. Mula-mula ia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian daribeberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pendiri negeri Bonjol. Dia adalah pemimpin yang paling terkenal dalam gerakan Padri di Sumatra, yang pada mulanya menentang perjudian, adu ayam, penggunaan opium, minuman keras, tembakau, dll., tetapi kemudian mengadakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda, yang mengakibatkan perang Padri (1821-1838).

Pada tahun 1837, desa Imam Bonjol berhasil diambil alih oleh Belanda, dan Imam Bonjol akhirnya menyerah. Dia kemudian diasingkan di beberapa tempat, dan pada akhirnya dibawa ke Minahasa. Di sana Tuanku Imam Bonjol wafat tanggal 6 Nopember 1864 dalam usia 92 tahun, dikebumikan di Desa Lotak Pineleng berjarak 25 km dari Tondano ke arah Manado.

Bebrapa pengikut Imam Bonjol kemudian menikah dengan wanita kampung Jawa Tondano adalah; Malim Muda (menikah dengan cucu Kyai Demak), Haji Abdul Halim (menikah dengan Wonggo-Masloman), Si Gorak Panjang (menikah dengan putri Nurhamidin), dan Malim Musa. Dari (diantara) mereka menurunkan keluarga (fam) Baginda di Minahasa dewasa ini.

Tahun 1861 : K.H. Ahmad Rifa'i (Asal Kendal, Jawa Tengah)

Kiai Haji Ahmad Rifai dilahirkan pada 9 Muharam 1200 H atau1786 di desa Tempuran Kabupaten Semarang. Beliau sorang ulama keturunan Arab, memimpin suatu pesantren di Kendal Jawa Tengah. Setelah beberapa kali keluar masuk penjara Kendal dan Semarang karena dakwahnya tegas, dalam usia 30 tahun.

Tahun 1272 H ( 1856 ) adalah merupakan tahun permulaan krisis bagi gerakan Kiai Haji Ahmad Rifai . Hal ini disebabkan hampir seluruh kitab karangan ( dan Hasil tulisan tangan beliau ) disita oleh pemerintah Belanda , disamping itu para murid dan Ahmad Rifai sendiri terus - menerus mendapat tekanan Belanda . Sebelum Haji Ahmad Rifai diasingkan dari kaliwungu Kendal Semarang , tuduhan yang dikenakan hanyalah persoalan menghasut pemerintah Belanda dan membawa Haji Ahmad Rifai dipenjara beberapa hari di Kendal , Semarang dan terakhir di Wonosobo .

Tahun1859 Ahmad Rifa’i diasingkan Belanda ke Ambon, kemudian diasingkan lagi ke Tondano pada tahun 1861 bergabung dengan group Kyai Modjo. Di Kampung Jawa Tondano K.H Ahmad Rifa’i menciptakan kesenian terbang (rebana) disertai dengan lagu-lagu, syair-syair, nadzam-nadzam yang diambil dari kitab karangannya.

K.H Ahmad Rifa’i wafat di Kampung Jawa Tondano pada Kamis 25 Robiul Akhir 1286 H atau tahun 1872 (usia 86 tahun) dan dimakamkan dikomplek makam Kyai Modjo.

Tahun 1880: Sayid Abdullah Assagaf (Asal Palembang, Sumatra selatan).

.Sayed Abdullah Assagaf adalah orang Arab yang lahir di Palembang, Sumatra Selatan. Belanda mengasingkannya ke Tondano pada tahun 1880 kerana menganggapnya menghasut masyarakat untuk melawan Belanda. Di Palembang Assagaf konon ia menikah dengan wanita Belanda (Nelly Meijer) putri Residen Bengkulu. Dari perkawinannya dengan wanita Belanda ini ia memperoleh satu orang anak laki-laki (Raden Nguren/Nuren). Sebelum nenikah dengan Assagaf, Nelly Meijer adalah janda beranak satu dari perkawinannya dengan adik Sultan Palembang (Mahmud Badaruddin II). Nelly Meijer dan kedua anaknya kemudian menyusul ke Kampung Jawa Tondano dan Raden Nuren kemudian menikah dengan wanita Minahasa asal Remboken. Anak Nelly Meijer yang satunya lagi (hasil perkawinan dengan adik sultan Palembang) menikah di Kampung Jawa Tondano dan menurunkan keluarga (fam) Catradiningrat.

Di Kampung Jawa Tondano Sayed Abdullah Assagaf menikah (lagi) dengan Ramlah Suratinoyo dan memiliki 7 orang anak, dan dari mereka menurunkan keluarga (fam) Assagaf di Kampung Jawa Tondano.

Keberadaan Abdullah Assagaf di Kampung Jawa Tondano telah men”distorsi” budaya kampung Jawa Tondano yang semula sangat kental dengan budaya jawa. Abdullah Assagaf berhasil mentransfer dan mengawinkan budaya Arab-Sumatra dengan budaya jawa dan melahirkan budaya jaton generasi ketiga.

Tahun 1884:Gusti (Pangeran) Perbatasari (Banjarmasin, Kalimantan).

Pangeran Perbatasari melakukan pemberontakan terhadap Belanda namun kemudian ia tertangkap di daerah Kutai ketika dalam perjalanan membeli persenjataan dan tahun 1884 diasingkan ke kampung Jawa tondano.

Di Kampung jawa Tondano Pangeran Perbatasari menikah dengan dengan wanita JATON. Satu orang saudara laki-lakinya (Gusti Amir) kemudian menyul ke Kampung Jawa Tondano dan menikah dengan wanita JATON (fam.Sataruno).

Tahun 1895: Tengku Muhammad / Umar (Asal Aceh).

Tengku Muhammad atau Tengku Umar (bukan Tengku Umar pahlawan Aceh) diketahui tidak mempunyai keturunan di jaton.

Tahun 1889 : Banten Group.

Pada tanggal 9 Juli 1888 di Cilegon (Banten – Jawa Barat) meletus perlawanan rakyat (disebut Geger Cilegon) terhapap pemerintah colonial Belanda. Geger Cilegon dipimpin oleh pemuka islam Cilegon antara lain Haji Abdul karim pemimpin tarekat di Lempuyang), Haji Tubagus Ismail, Haji Marjuki, dan Haji Wasid (pemimpin pesantren di Beji-Bojonegara, beliau murid Syekh Nawawi Al Bantani). Pada saat itu Banten sedang dihadapi bencana besar. Setelah meletusnya Gunung Karakatau pada tahun 1883 yang merenggut 20.000 juta jiwa lebih, disusul dengan berjangkitnya wabah penyakit hewan (1885) pada saat itu masyarakat banyak yang percaya pada tahayul dan perdukunan. Di desa Lebak Kelapa terdapat satu pohon besar yang sangat dipercaya oleh masyarakat memiliki keramat. Berkali-kali H. Wasid memperingati masyarakat. Namun bagi masyarakat yang tidak mengerti agama, fatwanya itu tidak diindahkan. H. Wasid tidak dapat membiarkan kemusrikan berada didepan matanya. Bersama beberapa muridnya, beliau menebang pohon besar tersebut. Kejadian inilah yang menyebabkan beliau dibawa ke pengadilan (18 Nopember 1887), belaiu didenda 7,50 gulden. Hukuman tersebut menyinggung rasa keagamaan dan harga diri murid-murid dan para pendukungnya. Selain itu, penyebab terjadinya persitiwa berdarah, Geger Cilegon adalah dihancurkannya menara langgar di desa Jombang Wetan atas perintah Asisten Residen Goebel. Goebel menganggap menara tersebut mengganggu ketenangan masyarakat, karena kerasnya suara. Selain itu Goebel juga melarangang Shalawat, Tarhim dan Adzan dilakukan dengan suara yang keras. Kelakuan kompeni yang keterlaluan membuat rakyat melakukan pemberontakan. Pada hari Senin tanggal 9 Juli 1888 diadakan serangan umum. Dengan memekikan Takbir para ulama dan murid-muridnya menyerbu beberapa tempat yang ada di Cilegon. Pada peristiwa tersebut Henri Francois Dumas - juru tulis Kantor Asisten residen - dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. Demikian pula Raden Purwadiningrat, Johan Hendrik Hubert Gubbels, Mas Kramadireja dan Ulrich Bachet, mereka adalah orang-orang yang tidak disenangi oleh masyarakat.Cilegon dapat dikuasio oleh para pejuang "Geger Cilegon". Tak lama kemudian datang 40 orang serdadu kompeni yang dipimpin oleh Bartlemy. Terjadi pertempuran habet antara para pejuang dengan serdadu kompeni. hingga akhirnya pemberontakan tersebut dapat dipatahkan. Haji Wasid dihukum gantung. Sedangkan yang lainnya dihukum buang. Diantaranya adalah Haji Abdurrahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. Haji Haris ke Bukittinggi Haji Arsyad thawil ke Gorontalo, Haji Arsyad Qashir ke Buton, Haji Ismail ke flores, selainnya dibuang ke Tondano, Ternate, Kupang, Manado, Ambon dan lain-lain. Semua pemimpin yang dibuang berjumlah 94 orang. Dari jumlah tersebut ada 4 orang yang dibuang ke kampung Jawa Tondano dan kemudian menikah dengan wanita Jaton.adalah Haji Abdul Karim (menikah dengan fam Haji Ali), Haji Muhammad Asnawi (menikah dengan fam Haji Ali) , Haji Jafar (menikah dengan fam Maspekeh) dan Haji Mardjaya. Keturunan mereka menggunakan fam Tubagus.

Tahun 1900: Haji Saparua (Asal Maluku).

Haji saparua menikah di Tondano (Babcock, 1989) namun tidak ada catatan mengenai keturunannya.

Jumat, 28 Maret 2008

IX. PERKAWINAN PENGIKUT KYAI MODJO & GADIS-GADIS MINAHASA (TONDANO)

Tahun 1831 : Pernikahan Dengan Wanita Tondano Sebagai Starting Point Generasi Kampung Jawa Tondano.

Bulan Mei Tahun 1831 genap 1 tahun Kyai Modjo dan pengikutnya berada di Tondano dan hampir 3 tahun sejak mereka ditangkap di Kembang Arum Salatiga pada Nopember 1828.

Tiga tahun sudah Kyai Modjo dan pengikutnya meninggalkan tanah Jawa, meninggalkan tanah kelahiran, meninggalkan keluarga, meninggalkan anak, meninggalkan istri, meninggalkan saudara, meninggalkan kerabat, tidak dapat memberi dan/atau menerima berita dari orang-orang yan mereka cintai, semuanya terputus bagaikan seutas benang sutra halus yang putus dimana potongan satunya jatuh dikegelapan.

Tiga tahun sudah Kyai Modjo dan pengikutnya dipaksa oleh para ”perompak eropa” meninggalkan tanah leluhur mereka, tanah milik mereka, meninggalkan dusun mereka; Sleman –Mlangi - Surakarta – Yogyakarta – Tegalrejo - Modjo – Baderan – Pulokadang – Krapyak – Boyolali – Pajang – dan lain-lain.

Tiga tahun sudah Kyai Modjo dan pengikutnya dipaksa oleh para ”perompak eropa” meninggalkan tanah dimana ”pusar” mereka dikuburkan menuju ke suatu tempat akhir yag tidak mereka ketahui, bermula dari Salatiga kemudian ke Semarang – Batavia – Ambon – Manado, menyeberangi 3 lautan (laut Jawa, laut Arafuru, laut Sulawesi), ketika baling-baling kapal Thalia dan kapal Mostora mulai berputar semakin cepat, ketika buritan kapal-kapal itu mulai berputar membelakangi tanah jawa dan makin menjauhi tanah Jawa, mereka ada di kapal itu bertanya-tanya akankah mereka dapat kembali lagi?, air mata mereka mulai berjatuahan tidak terbendung lagi, isakan tangis tak mampu menghentikan kencangnya deru mesin kapal, mereka merasa lelah lahir dan batin, 3 bulan terombang ambing dan terhempas gelombang 3 lautan setinggi rumah nyaris menelan seisi kapal bagaikan berontaknya batin tanpa daya, termenung dalam ketakutan, mata saling pandang tanpa kata-kata, terkurung dalam kapal perang beratapkan terpal, diantara mereka ada yang sekarat dan nyawa lepas dari raga, namun tak seorangpun dari para ”perompak eropa” itu mempedulikan. Mereka berusaha menguatkan hati mereka dengan menyebut nama Allah dan berzikir. ( Note :Letnan Belanda yang mengawal selama perjalanan dari Surakarta sampai di Manado melaporkan bahwa Kiay Modjo dan pengikutnya sering menyanyikan lagu-lagu (Zikir Qolibah ?) yang diambil dari Alquran).

Hari itu, di bulan Mei 1830 seakan memberi jawaban akan pertanyaan mereka selama 3 bulan mengarungi lautan bahwa tempat tujuan akhir (destination) mereka adalah Tondano, suatu tempat yang sangat asing dengan masyarakat yang asing, bahasa yang asing. Mereka merasa bagaikan berada di suatu tempat di planet lain.

Hari itu, ketika mereka menghitung jumlah mereka, hitungan berhenti pada angka 63 padahal 3 tahun lalu hitungan masih di atas 100, telah lebih dari 40 orang terlepas jiwa dari raga sejak perjalanan dari tanah jawa.

Hari-hari selanjutnya mereka lalui dalam kesepian, ketika gelap malam datang merengkuh dan meyelimuti dengan hawa dingin Tondano, hanya berpenerang cahaya bulan dan kayu bakar, tubuh-tubuh yang lelah lunglai terhempas di atas bale-bale rumbia dan tikar, kerinduan akan kampung halaman dan handaitolan di tanah jawa menghujam hati.

Hari-hari itu, hari-hari yang penuh ujian dan cobaan, bertanya-tanya adakah Allah SWT masih bersama mereka?, ya Allah – adakah Engkau mendengar do’a dan jeritan hati kami?, adakah arti dari perjuangan dan pengorbanan membela kehormatan dan ajaran Nabi Muhammad SAW?, belum cukupkah namaMu kami sebut puluhan kali dalam setiap zikir? dan atusan kali dalam sehari?, jiwa-jiwa mereka mulai rapuh.

Hari-hari itu, seorang Kyai Modjo dan seorang saudara satu-satunya Kyai baderan, kualitas keulamaannya benar-benar diuji, kepemimpinannya menjadi taruhan, kekhawatiran akan terjadi demoralisasi pengikut-pengikutnya tiba-tiba datang menyergap.

Tiga bulan pertama adalah usaha keras Kyai Modjo dan Kyai Baderan membangkitkan moral para pengikut, membangkitkan kembali semangat hidup, mengingatkan keyakinan akan pertolongan Allah SWT, lupakan tanah Jawa !. Di sini, di Minahasa, di Tondano akan menjadi “tanah Jawa” yang baru, ”Tegalrejo” yang baru, penduduk asli Tondano akan menjadi saudara-saudara yang baru. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah SWT Kyai Modjo berhasil membangkitkan semangat hidup dan semangat juang para pengikutnya. (Kampung Jawa) Tondano menjadi bukti/tonggak sejarah masuknya agama islam langsung di jantung Minahasa.

Semula secara tidak langsung Belanda ingin melucuti semua atribut keulamaan dan kepemimpinan Kyai Modjo serta keyakinan para pengikutnya namun Allah SWT adalah sebaik-baiknya Dzat yang melucuti. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosa dan memberi tempat yang layak untuk ”Founding Fathers” Kampung Jawa Tondano” disisiNya – Amin.

Tahun itu, tahun 1831,tahun pertama di Tondano, tahun yang menentukan akan ada auau tidak generasi Kampung Jawa Tondano, tahun dimana Kyai Modjo baru memasuki usia 40 tahun. Tahun itu adalah tahun kerja keras, tahun bermandikan peluh dan keringat, tahun dimulainya persahabatan antara orang Tondano dan ”orang jawa pendatang”. Tahun itu, tangan dan kaki telanjang ”orang jawa pendatang” menjadi sekop dan pacul, kayu menjadi bajak, rawa ganas diubah menjadi ladang, menanam apa yang bisa menjadi makanan.

Tahun pertama itu, dengan strategi kerja keras dan moralitas tinggi yang dipimpin oleh Kyai Modjo dan mengajari penduduk Tondano cara bercocok tanam yang baik ternyata telah membuat penduduk asli Tondano sangat ”wellcome”. Sikap dan achlak yang ditunjukan telah menarik perhatian penduduk asli Tondano. Bahkan para ”Lolombulan” (sebutan untuk anak gadis asli Tondano pada masa itu) tertarik untuk berkenalan dengan laki-laki ”orang-orang jawa pendatang” itu, dan terbukalah pintu gerbang perkawinan antara ”orang-orang jawa pendatang” dengan para ”lolombulan”.

Residen Menado ketika mengunjungi (Kampung Jawa) Tondano pada tahun 1831 (Ref. Surat Residen Menado ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral di Batavia tertanggal 18 Oktober 1831 No.235 ) mencatat bahwa pada tahun pertama itu telah ada perkawinan beberapa orang jawa itu dengan gadis-gadis Tondano, salah satu diantaranya adalah Sis (Tumenggung Zes Pajang mataram). Tumenggung Zes adalah putra dari Kyai Hasan Besari – adik dari Kyai Modjo), beliau menikah dengan Wurenga Rumbayan – putri Kepala Walak Tondano bernama; RUMBAYAN). Dalam bahasa Tondano ; Wurenga artinya telur, dan memang menurut cerita di kampung Jawa tondano bahwa si ”lolombulan” Wurenga Rumbayan berkulit putih bersih seperti putih telur.

RUMBAYAN sebagai kepala walak Tondano tentunya memiliki kelebihan dalam hal kesaktian dan keberanian dalam ukuran masyarakatnya. Konon ketika Kyai Modjo datang menemui Rumbayan bermaksud melamar putrinya untuk Tumenggung Zes, Rumbayan menguji melalui ”pertarungan” persabatan untuk mengetahui ke”mandragunaan” kelelakian ”orang jawa pendatang” itu dan konon Rumbayan mengakui ”kesaktian” (bathin) Kyai Modjo Cs. Rumbayan mengabulkan lamaran Tumenggung Zes dan merelakan putrinya menjadi seorang muslimah. Dari perkawinan Tumenggung Zess Pajang Mataram ini kelak keturunan Keluarga atau Fam (Tumenggung) Zess hingga saat ini. Perkawinan pertamakali ini kemudian diikuti dengan perkawinan-perkawinan berikutnya antara kerabat Kyai Modjo dan gais-gadis Tondano, antara lain sebagai berikut ;

1. Gazaly menikahi putri keluarga TOMBOKAN bernama Ringkingan.

(Kelak menurunkan keluarga Modjo)

2. Tumenggung Reksonegoro menikahi putri dari keluarga TUMBELAKA.

(Kelak menurunkan keluarga Pulukadang)

3. Wiso menikahi putri keluarga PAKASI-LENGKONG

(Kelak menurunkan keluarga Pulukadang)

4. Syafei alias Sopingi menikahi putri keluarga WALALANGI.

(Kelak menurunkan keluarga Baderan)

5. Rajes menikahi putri keluarga KALENGKIAN.

(Kelak menurunkan keluarga Baderan)

Dua orang kemenakan Kyai Modjo yang lain (Elias & Tumenggolo) kemungkinan juga menikah dengan gadis Tondano tetapi tidak ada catatan tentang identitas istri mereka.

Kyai Modjo sendiri tidak menikah lagi hingga beliau wafat pada tanggal 20 Desember 1849.

Tidak semua pengikut Kyai Modjo menikah dengan wanita Tondano, ada juga yang menikah dengan wanita jawa yang datang ke Menado bersama rombongan Pangeran Diponegoro ataupun yang datang kembali ke Tondano setelah menemani Pangeran Diponegoro ke tempat pembuangan terakhir di Makasar 4 tahun kemudian (tahun 1834). Mereka itu adalah putri-putri dari pengawal-pengawal Pangeran Diponegoro yang sekalian dengan bapaknya kembali (set back) ke Tondano setelah hanya beberapa waktu di Makasar, seperti putri-putri dari Banteng Wareng, Djoyosuroto, Sataruno, Mertosono alias Merta Leksono, Midin alias Nurhamidin, Suratinoyo, dan lain-lain. Dan khirnya setiba di Tondano pengawal-pengawal Pangeran Diponegoro juga kembali menikah dengan wanita Tondano, kelak dari mereka menurunkan keluarga Djoyosuroto, Sataruno, Mertosona, Nurhamidin, Banteng, Sataruno. Keturunan mereka hingga kini digolongkan sebagai warga Kampung Jawa Tondano.

Kemudahan menikahi wanita-wanita Minahasa ini berlangsung hingga tahun 1835. tahun-tahun selanjutnya mulai terasa kesulitan karena zending-zending kristen sangat gencar menyebarkan agama kristen di Minahasa terutama di Tondano. Pada kondisi demikian Kyai Modjo dan pengikut-pengikutnya merubah strategi dari ekspansif menjadi defensif. Bertahan sambil memperkuat keimanan islam di wilayah kampung Jawa Tondano. Kyai Modjo sangat sadar, kekuatannya sangat terbatas dan minoritas, ia tidak ingin membuat perseteruan dengan penduduk asli Tondano yang telah memberinya perlindungan, persahabatan dan merelakan putri-putri mereka memeluk agama islam, bila ia salah memimpin dan megarahkan pengikutnya maka benih islam yang baru ia tanam di jantung Minahasa akan tergilas oleh zending kristen. Meskipun demikian komunitas kampung jawa tondano berusaha ”mengirim” sinyal-sinyal islam ke masyarakat sekitar dengan cara bekerja keras, jujur, bermoral, menjaga etika dan sopan santun yang baik dan lain-lain dalam kerangka hubungan kemanusiaan (hablumminnannas). Strategi ini ternyata efektif karena tahun-tahun berikutnya masih terjadi wanita tondano menikahi anggota pengikut Kyai Modjo dan masuk islam, bahkan terdapat pemuda-pemudanya yang kemudian dengan kesadaran sendiri menjadi muslim. Keturunan dari pemuda-pemuda Minahasa ini hingga kini tetap membawa marga keluarga Minahasanya namun mereka muslim seperti sebagian keluara Karinda, keluarga Tombokan, keluarga Rumbayan.

Kyai Modjo telah membuktikan beliau bukan hanya sekedar ulama fikih saja tetapi lebih dari itu beliau seorang ahli strategi dan kepemimpin. Dan ternyata Pangeran Diponegoro seorang yang bergelar “Jeng Sultan Abdulhamid Herucakra Sayidin Panatagama Khalifah Rasullullah di tanah Jawa” pun tak berdaya menghadapi Belanda tanpa Kyai Modjo.

VIII. KYAI MODJO & PENGIKUTNYA TIBA DI (KAMPUNG JAWA) TONDANO

8.1. Long March Manado - Tondano.

Dari Menado mereka ”long March” menuju tempat yang sudah ditentukan oleh Pemerintah Hindia Belanda, yaitu Distrik Tonsea Lama. Dipilih Tonsea Lama karena di Distrik ini Belanda mempunyai satu detasemen tentara Belanda dan prajurit sewaan dari orang-orang Ambon dan mereka akan digunakan juga untuk menjaga Kyai Modjo dan pengikutnya.

Di Tonsea lama Kyai Modjo tidak berkenan ditempatkan di tempat ini, dan mengusulkan tempat lain. Belanda menyetujui tetapi tidak boleh jauh dari Tonsea lama.

8.2 Kyai Modjo & Pengikutnya Tiba di Tondano.

Konon menurut cerita (oral history) dari ”orang-orang tua” yang pernah penulis dengar, untuk menentukan tempat menetap terakhir Kyai Modjo menyembelih seekor sapi/lembu dan sebagian potongan-potongan daging lembu tersebut diletakan dibeberapa tempat di sekitar Tonsea Lama. Tempat dimana daging paling lama membusuk akan dipilih menjadi tempat menetap permanen, dan tempat itu sekarang dikenal sebagai Kampung Jawa Tondano, hanya berjarak kurang dari 5 km dari Tonsea Lama. Tanah tersebut semula adalah milik Kepala Distrik (Kepala Walak/Tona’as) Tondano.

Pada masa itu kondisi alam Minahasa khususnya Tondano masih bersih dan alamiah, tidak ada polusi sehingga dapat dikatakan kecuali bakteri pembusuk, lingkungan alam sangat menentukan suatu tempat lebih sehat dari yang lain.

Istri Kyai Modjo (mbah Wedok) menyusul tiba di Tondano bergabung dengan Kyai Modjo diperkirakan setahun kemudian, pada medio tahun 1831, kemungkinan beliau di”kirim” dari Jawa satu rombongan dengan Pangeran Diponegoro.

Dengan demikian Kyai Modjo dan pengikutnya (semuanya laki-laki) dapat dikatakan sebagai ”Founding Fathers” kampung Jawa Tondano. Dewasa ini orang-orang yang menetap dan/atau ber(mu)asal dari kampung itu populer dengan sebutan orang JATON.

Secara formal administratif tidak diketahui sejak kapan sebutan Kampung Jawa Tondano mulai digunakan namun diperkirakan pada awal abab 19. Dalam tulisan ini dianggap keberadaan Kampung Jawa Tondano dimulai ketika Kyai Modjo dan pengikutnya menginjakkan kaki mereka di sana.

Saat ini secara administaratif, Kampung Jawa Tondano terletak di Kabupaten Minahasa Selatan, Kecamatan Tondano Utara.

8.3 Tanah (Kampung Jawa) Tondano Adalah Pemberian Negara (Hindia Belanda).

Residen Menado mengunjungi Kampung Jawa Tondano pada bulan Oktober 1831 setelah lebih setahun Kyai Modjo dan pengikutnya berada di sana. Di kampung Jawa Tondano Residen Menado menemui dan berbicara dengan Kyai Modjo. Pada kesempatan itu Residen memberitahukan bahwa tanah yang ditempati Kyai Modjo dan pengikutnya dan tanah yang mereka gunakan untuk bercocok tanam akan diberikan kepada mereka sebagai pemberian negara. Pemerintah Hindia akan membeli tanah tersebut dari pemiliknya (Kepala Distik Tondano) namun Kepala Distrik Tondano tidak mau dibayar sebagai ganti rugi tanahnya yang diambil oleh negara untuk penempatan tahanan negara. Kepala Distrik Tondano rela memberikan tanahnya kepada Kyai Modjo dan pengikutnya tanpa ganti rugi. Di tempat itu kemudian dibangun mesjid yang pengerjaannya dilakukan oleh Kyia Modjo dan pengikutnya.

Apa yang telah dilakukan Kepala Distrik tersebut mencerminkan adanya persabatan dan sangat menerima kedatangan Kyai Modjo dan pengikutnya di Tondano. Keberadaan Kyai Modjo dan pengikutnya di Tondano dalam waktu sangat singkat (baru1 tahun).telah ”mencuri” hati penduduk asli sekitarnya sehingga penduduk asli disitu menghormati dan mencintai Kyai Modjo.

Memang keberadaan Kyai Modjo dan pengikutnya di Tondano telah memberi dampak sangat positif pada penduduk asli disekitarnya, penduduk arafuru bekerja lebih baik karaena ”orang-orang Jawa” mengajari mereka cara yang baik bercocok tanam.

Peristiwa bersejarah di atas terekam dalam Surat Residen Menado ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral di Batavia tertanggal 18 Oktober 1831 No.235 dan Surat Direktur Lands Producten en Civile Magazijne ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral di Batavia tertanggal 14 Juni 1839 No.2520.

Minggu, 16 Maret 2008

VII. KYAI MODJO & PENGIKUTNYA TIBA DI MANADO

7.1 Tinjauan Singkat Sejarah Minahasa.

Sebutan untuk masyarakat Sulawesi Utara adalah orang Minahasa. Minahasa bukanlah nama suatu etnik, melainkan sebuah sebutan atau istilah yang pertamakali muncul dalam laporan residen J.D Schierstein pada tanggal 8 Oktober 1789. Pada saat itu terjadi perjanjian perdamaian yang mempersatukan kelompok-kelompok sub etnik Bantik dan Tombolu (Tateli) dan kelompok Toulour dan kelompok Tonsawang. Minahasa berasal dari kata esa yang berarti satu, kata Maha –esa berarti menyatukan berbagai sub-etnik Minahasa. Terdapat delapan etnis yang merupakan penduduk asli Sulawesi Utara. Kedelapan Sub etnis tersebut adalah : Toulour/ Tondano, dengan dialek Tondano yang mendiami daerah bagian timur dan pesisir danau Tondano ; Totemboan, dengan dialek Totemboan yang mendiami daerah barat daya dan Selatan Danau Tondano ; Tonsea, dengan dialek Tonsea yang mendiami sekitar bagian timur laut ; Tombolu, dengan dialek tombolu yang mendiami daerah sekitar barat laut danau Tondano ; Tonsawang/Tonsini, dengan dialek dan bahasa Tonsawang yang mendiami daerah bagian tengah Minahasa atau bagian Selatan daerah Tombatu ; Pasan/Ratahan, dengan dialek – bahasa Ratahan yang mendiami daerah bagian timur sebelah Selatan ; Ponosokan, dengan dialek-bahasa Ponosakan yang mendiami daerah bagian selatan ; Bantik, dengan dialek Bantik yang mendiami atau tersebar di pesisir utara dan selatan kota Manado.

Secara geografis Minahasa berada pada lereng pegunungan Masarang yang diapit Gunung Soputan dan Gunung Lokon.

7. 2 Pemimpin Minahasa (Tempo Dulu)

Pemimpin Minahasa jaman tempo dulu terdiri dari dua golongan yakni Walian dan Tona’as. Walian mempunyai asal kata “Wali” yang artinya mengantar jalan bersama dan memberi perlindungan. Golongan ini mengatur upacara agama asli Minahasa hingga disebut golongan Pendeta. Mereka ahli membaca tanta-tanda alam dan benda langit, menghitung posisi bulan dan matahari denga patokan gunung, mengamati munculnya bintang-bintang tertentu seperti “Kateluan” (bintang tiga), “Tetepi” (Meteor) dan sebagainya untuk menentukan musim menanam. Menghafal urutan silsilah sampai puluhan generasi lalu, menghafal ceritera-ceritera dari leluhur-leluhur Minahasa yang terkenal dimasa lalu. Ahli kerajinan membuat pelaratan rumah tangga seperti menenun kain, mengayam tikar, keranjang, sendok kayu, gayung air.
Golongan kedua adalah golongan Tona’as yang mempunyai kata asal “Ta’as”. Kata ini diambil dari nama pohon kayu yang besar dan tumbuh lurus keatas dimana segala sesuatu yang berhubungan dengan kayu-kayuan seperti hutan, rumah, senjata tombak, pedang dan panah, perahu. Selain itu golongan Tona’as ini juga menentukan di wilayah mana rumah-rumah itu dibangun untuk membentuk sebuah Wanua (Negeri) dan mereka juga yang menjaga keamanan negeri maupun urusan berperang.

Pengertian walak menurut kamus bahasa Tontemboan yang dikutip Prof G.A. Wilken tahun 1912 dapat berarti (1) Cabang keturunan (2) Robongan Penduduk (3) Bahagian Penduduk (4) Wilayah kediaman cabang keturunan. Jadi Walak mengandung dua pengertian yakni Serombongan penduduk secabang keturunan dan wilayah yang didiami rombongan penduduk secabang keturuan. Kepala Walak artinya pemimpin masyarakat penduduk secabang keturunan, TU’UR IMBALAK artinya wilayah pusat kedudukan tempat pertama sebelum masyarakat membentuk cabang-cabang keturuan. MAWALAK artinya membahagi tanah sesuai banyaknya cabang keturunan. IPAWALAK artinya membahagi tanah menurut jumlah anak generasi pertama, tidak termasuk cucu dan cicit.

Penelitian G.A. Wilken ini membantah laporan residen Belanda Wensel yang menulis bahwa arti kata WALAK dari bahasa Melayu BALOK karena KAPALA WALAK Minahasa harus menyediakan Balok kayu untuk pemerintah Hindi Belanda abad 18. Kata Walak adalah kata Minahasa asli di wilayah Tontemboan, Tombuluk, Tonsea dan Topndano. Jumlah Walak di Minahasa sebelum jaman Belanda tahun 1679 tidak kita ketahui, ketika Minahasa mengikat perjanjian dengan VOC Belanda, terdapat 20 Walak di Minahasa. Memasuki abad 19, jumlah Walak di Minahasa ada 27 (Yessy Wenas, 2000).

Agama Kristen pertamakali masuk di Manadotua, kemudian ke teluk manado dan Kepulauan sangihe & Talaut pada sekitar tahun 1560 bersamaan dengan masuknya perdagangan Portugis di daerah itu. Sedangkan di daerah Manado dimulai tahun 1822 oleh Misionaris L.Lammers, kemudian Kema dan Tondano tahun 1833 (Misionaris Muller & J.F Reidel) serta Langowan tahun 1831(J.G Schwarz).

Di Minahasa sejak dahulu tidak mengenal adanya pemerintahan yang diperintah oleh raja. Yang ada adalah:

Walian :Pemimpin agama / adat serta dukun

Tonaas atau Kepala Walak : Orang keras, kewanuaan, kepala msayarakat.

Teterusan : Panglima perang

Potuasan : Penasehat


7.3 Keadaan Politik Hindia Belanda di Minahasa pada tahun 1839 – 1848
Pada era ini Menado adalah bagian Administratif dari kepulauan Maluku bersama dengan kepulauan Ambon dan kepulauan Banda. Menurut administrasi Pemerintah Belanda afdeeling Menado dibagi menjadi 4 kawasan : Minahasa, negeri-negeri di jazirah utara dan barat, negeri-negeri di tepi pantai selatan teluk tomini dan kepulauan Sangihe & Talaut. Residennya berkedudukan di Menado.
Pembantu-pembantunya terdiri atas seorang gezaghebber di Gorontalo dan 3 opziener di Amurang, Kema dan Tondano. Sebelum tahun1817 afdeeling Menado ada di bawah pemerintahan Gubernur Ternate dan Kepulauan Sangihe & Talaut sampai 1825 menjadi bagian dari Pemerintahan Ternate. Wilayah Minahasa langsung diperintah oleh Residen Menado, dan terbagi menjadi 28 negeri, satu diantaranya negeri Tondano. Tiap-tiap negeri diperintah oleh 2 orang kepala pribumi yang bergelar hukum mayor (tonaas), yaitu hukum pertama dan hukum kedua. Kepala-kepala negeri ini tidak mendapat gaji dari Pemerintah Belanda.

Menurut kontrak antara para Hukum dan Pemerintah Belanda tertanggal 14 September 1810 rakyat di tiap-tiap negeri di Minahasa diwajibkan menjual beras dan benang gumusi (gumutu ?) kepada Pemerintah Belanda dalam jumlah dan harga tertentu, dan sejak 1822 diwajibkan menanam kopi. Khusus untuk daerah Ponosakan diwajibkan menyerahkan emas.

7.4 Masyarakat Asli Tondano Pada Sekitar Tahun 1830.

Masyarakat asli Tondano umumnya hidup dari hasil bumi yang tumbuh karena kesuburan tanahnya, bukan karena sengaja diolah. Masyarakat Tondano adalah masyarakat yang masa itu dikenal dengan sebutan alifuru – penganut kepercayaan animisme. Tanaman pohon enau atau sagu (sejenis palm) banyak ditanam orang-orang Minahasa di masa itu karena selain menghasilkan getah padat pada pucuk bagian dalam pohon (disebut sagu – makanan pokok orang Minahasa waktu itu), juga menghasilkan cairan yang rasanya manis dan langsung dapat diminum (saguer).

Meskipun agama Kristen telah masuk ke Sulawesi Utara pada abad ke 17 namun di Minahasa Zending kristen mulai intensif menyebarkan agama kristen di Minahasa pada periode tahun 1835 – 1865.

7.5 Kyai Modjo dan Pengikutnya Tiba di Manado.

Kyai Modjo dan pengikutnya, semuanya laki-laki berjumlah 63 orang tiba di Manado dari Ambon pada sekitar bulan Mei 1830. Kapal mereka berlabuh di salah satu pelabuhan yang ada waktu itu (Manado, Amurang atau Kema). Dalam rombongan tersebut ikut serta 9 orang kerabat Kyai Modjo yaitu;

1. Kyai Baderan (kyai Ketib Biman ?) : saudara kandung Kyai Modjo.

2. Gazaly : anak Kyai Modjo.

3. Tumenggung Reksonegoro(Kyai Pulukadang) : kemenakan Kyai Modjo.

4. Wiso (adik Tmg Reksonegoro) : kemenakan Kyai Modjo.

5. Tumenggung Zes Pajang Mataram : kemenakan Kyai Modjo.

6. Elias (adik Tumenggung Zes) : kemenakan Kyai Modjo.

7 Tumenggolo (anak Kyai Baderan) : kemenakan Kyai Modjo.

8.Syafei alias Sopingi (anak Kyai Baderan) : kemenakan Kyai Modjo

9. Rajes (anak Kyai Baderan) : kemenakan Kyai Modjo

Anak Kyai Modjo dan 8 orang kemenakannya ketika itu baru berusia antara 15 – 20 tanun, sedangkan Kyai modjo sendiri berusia sekitar 38 tahun. Kyai Modjo memang sangat muda ketika berkecamuk perang jawa (ia ketika itu masih berusia 35 tahun) namun kesaktian dan keulamaannya terkenal di seantero tanah jawa.

Sabtu, 15 Maret 2008

VI. PROSES “PEMBUANGAN” KYAI MOJO SERTA PENGIKUTNYA DARI SEMARANG – BATAVIA – AMBON - TONDANO (MASARANG)

Meskipun Kyai Modjo dan pengikutnya sudah berada dalam tahanan Belanda di Semarang, Belanda masih khawatir akan resiko pengaruh Kyai modjo di tanah jawa dan kemungkinan melarikan diri dari tahanan kemudian melakukan perlawanan lagi, karena itu Belanda bermaksud membawa Kyai Modjo dan pengikutnya jauh dari tanah jawa,menyeberangi lautan ke Manado. Para petinggi kolonial Belanda di Semarang, Batavia, Ambon dan Manado secara intensif melakukan kontak-kontak untuk secepat mungkin membawa Kyai Modjo dan pengikutnya keluar dari Jawa Tengah. Jalur laut yang dipilih adalah Semarang – Batavia – Ambon – Manado, menggunakan kapal perang dengan pengawalan kuat. Pembuangan tidak langsung dari semarang ke manado karena masih diperlukan persiapan mobilisasi (kesiapan kapal perang), keamanan, akomodasi dan konsumsi yang membutuhkan biaya besar mengingat perjalanan yang jauh.

VI.1 Keputusan Pengadilan Tinggi Belanda : Kyai Modjo sebagai tahanan politik.

Tahap pertama Belanda mengeluarkan Kyai Modjo dan pengikutnya dari Semarang menuju Batavia. Untuk formalitas landasan hukumnya Pemerintah kolonial Belanda kemudian dengan cepat menggelar sidang pengadilan untuk memutuskan status Kyai Modjo dan pengikutnya. Hasil sidang Pengadilan Tinggi Kolonial Belanda adalah (ref. surat dari Menteri Negara Komisaris Jendral tanggal 1 Desember 1828 kepada Letnan Gubernur jendral);

1. Kyai Modjo dan pengikutnya dipenjara dalam bentuk tahanan rumah.

2. Membangun gedung baru sebagai ”rumah tahanan” untuk Kyai Modjo dan pengikutnya,

3. Ir.Tromp ditunjuk sebagai pelaksana pembangunan ”rumah tahanan” tersebut.

4. Menyiapkan 25 orang sedadu Ambon secara bergantian menjaga rumah tersebut.

VI.2 Persiapan Pemberangkatan Kyai Modjo dan pengikutnya ke Batavia.

Persiapan-persiapan pemberangkatan Kyai Modjo dan pengikutnya ke Batavia menyangkut jumlah orang , jumlah kapal dan pengawalan yang dibutuhkan. Kyai Modjo merupakan tawanan yang harus mendapat pengawasan ketat karena ia mempunyai pengaruh besar. H.M van de Poll selaku Kepala Komisaris Negara di Dewan Negara ditunjuk mengurus tawanan perang Kyai Modjo dan pengikutnya.

De Poll diperintahkan membawa semua tawanan negara tersebut dengan kapal Fregat De Belona dipindahkan ke kapal tunggu. Pengurusan kyai modjo dan pengikutnya ditempatkan di kapal Fregat De Belona dan satu kapal tunggu untuk kemudian siap dinaikan ke kapal perang Mercury, semua itu dibawah pengawasan militer, memperlakukan tawanan dengan baik sesuai perjanjian antara Kepala hakim dan Komandan Fregat De Belona, melakukan serah terima tawanan dari pimpinan kapal perang sesuai kesepakatan antara Komandan Angkatan Laut, Kepala hakim Batavia dan Komandan Fregat De Belona.

VI.2 Daftar Pengikut Kyai Modjo yang diberangkatkan.

VI.2.1 Daftar nama tawanan perang yang dibawa kapal Fregat De Belona dari Semarang ke Batavia

1) Kyai Modjo, 2) Baderan (Kyai Baderan), 3) Urawang (Urawan – Ngurawan), 4) Paeyang (Tmg.Zess Pajang), 5) Roso Negoro (Tmg.Reksonegoro), 6)Brojo Yudo, 7) Ishak, 8) Wonopati, 9) Ajali (Gazaly), 10) Tirto Drono, 11) Ngiso (Wiso), 12) Haji Ngali (Haji Ali), 13) Meraji (?), 14) Elias (Elias Zess), 15) Wiro Negoro (?), 16) Merto Mergolo (Tumenggolo, putra Kyai Baderan), 17) Abdul Wahab (?), 18) Kagiman (?), 19) Mansor (?), 20) Mesin (?), 21) Sapeni (Syafei, putra Kyai baderan) 22) Sasi (Kosasih), 23)Abdul Rahman (?), 24)Kusini (Kusen), 25)Samangi (Semangi), 26)Sarijo (?), 27)Abrah (?), 28)Markoh (?), 29)Ngali Imran (Ali Imran), 30)Amat saiman (?), 31)Kasidin (?), 32)Surodrono, 33)AmanWarsiman, 34)Setro Dilogo, 35)Mohamat Tup (Thayeb), 36)Mohamad Ibrahim, 37)Haji Hasan (Kyai Hasan Mochammad ?), 38) So Dirjo, 39)Jogo Prawiro, 40)Budo , 41)Amat Suke, 42)Kasan Niman, 43)Usin , 44)Wahodo.

VI.2.2 Daftar tawanan perang yang berada di kapal tunggu.

1)Sapawi, 2)Kalis, 3)Sonoro, 4)Trayem, 5)Tojoyo, 6)Pali, 7)Saiman, 8)Yunus, 9)Gremis, 10)Beno, 11)Wonorejo, 12)Mangin, 13)Bayer, 14)Bayi, 15)Kertojoyo, 16)Dumiri, 17)Mumin, 18)Adam, 19)Jupri, 20)Diman, 21)Sorogi, 22)Sareman, 23)Setrojoyo, 24)Matsari, 25)Kanafi (Hanafi), 26)Kampret, 27)Kemis, 28)Tolosono, 29)Busu, 30)Abdul Lagem, 31)Tenami, 32)Duko.

VI.3 Kyai Modjo dan pengikutnya dalam tahanan sementara di Batavia.

Kiay Modjo dan kerabat beserta pengikutnya secara bertahap dibawa menuju Klaten, Solo, Salatiga, Semarang, dan Batavia (Jakarta).

VI.3.1 Rombongan Pertama : Kyai Modjo & 76 orang pengikut.

Merujuk pada surat Kepala penjara Batavia kepada Letnan Gubernur Jendral No.994/768 tertanggal 3 Desember 1828, kedatangan rombongan pertama Kyai Modjo dan pengikutnya tiba di Batavia pada tanggal 2 Desember 1828 dengan pengawalan militer sangat kuat, menggunakan tiga kapal perang militer yaitu Mercury, Fregat De Belona dan Fregat Anna Paulona. Dalam rombongan pertama ini tidak termasuk istri Kyai Modjo dan 2 orang saudara Kyai Modjo yaitu adiknya (Kyai Khasan Besari/Imam Agung) dan kakaknya (Kyai Imam Hazaly/Khasan Mochammad ?) – lihat butir 5.3.2. & butir 5.8.

Sesuai dengan kesepakatan semua pihak maka tawanan ini diperlakukan dengan baik serta diperhatikan kebutuhan sehari-harinya. Hal ini perlu karena Kyai Modjo masih mempunyai pengaruh yang kuat. Karena dianggap berbahaya oleh Belanda maka sewaktu berada di BataviaManado. Dengan penempatan tahanan politik di “kantor baru” ini memudahkan penjagaan maupun pemberian layanan, kebutuhan sehari-hari. tidak ditempatkan digedung penjara menyatu dengan tahanan biasa tapi ditempatkan di “kantor baru” sebagai tahanan rumah. Rumah ini dibangun memang khusus untuk menempatkan tahanan politik yang sangat istimewa itu, menunggu ke tempat pembuangan terakhir di Tondano.

Semua biaya yang diajukan itu disetujui oleh Menteri Komisaris Jendral, untuk selanjutnya Kantor Keuangan Negara yang akan melakukan pembayaran. Biaya ini belum termasuk sewa kapal untuk mengangkut tahanan politik ke tempat pembuangan sementara di Maluku (Ambon), biaya hidup yang ditanggung pemerintah untuk para tahanan politik di Manado, pengiriman istri Kyai modjo dimulai dari Semarang hingga Manado menyusul suaminya. Pengiriman ini perlu karena pemerintah menganggap istrinyapun cukup berbahaya.

VI.3.2 Rombongan Kedua ; Empat Orang Pengikut Kyai Modjo Tiba di Batavia.

Ketika Kyai Modjo dan pengikutnya dibawa dari Semarang ke Batavia, masih ada beberapa orang lagi yang masih tertinggal di Semarang. Empat orang diantaranya yang kemudian dibawa ke Batavia menyusul Kyai Modjo dan tiba di Batavia pada akhir Desember 1828. Keempat orang tersebut adalah Kajali, Imam Agung, Bawu dan Kawat sari.

Kedatangan empat orang pengikut Kyai Modjo ini telah menambah pengeluaran pemerintah kolonial untuk keperluan sandang/pangan dan pengamanan seperti terekam dalam dokumen Surat dari hakim Batavia No.15/10 tanggal 2 januari 1829. Surat ini ditujukan kepada Menteri Negara Komisaris perihal permintaan uang kepada pemerintah untuk ;

- Uang saku Kyai Modjo dan pengikutnya sebesar 312,5 gulden.

- Membayar 12,5 pon daging untuk menu makan para penjaga. Perhitungan ini digunakan dengan jatah yang diberikan kepada Kyai Modjo dan pengikutnya berjumlah 87 orang selama tanggal 3 s/d 31 Desember 1828 sebesar 1914 gulden.

- 4 orang pengikut yang baru datang dari Semarang selama tanggal 27 s/d 31 desember 1828 telah menelan biaya 15 gulden.

- Biaya perjalanan Kyai Modjo dan pengikutnya selama berada di kapal Mercury, Belona dan Anna Paulona sebesar 250 gulden.

- Biaya pakaian Kyai Modjo dan pengikutnya (termasuk 4 orang yang datang belakangan) yang dipasok oleh kapten Cina Jap Soanko sebesar 40,5 gulden.

- Keperluan tikar, bantal, bale-bale dan lainnya sebesar 258,40 gulden.

- Total biaya yang diperlukan 3051,15 gulden.

Surat Keputusan Letnan Gubernur Jendral tanggal 6 Januari 1829 No.38 berisi persetujuan atas biaya untuk keperluan Kyai Modjo dan pengikutnya sebesar 3051,15 gulden dan memerintahka Menteri Negara Komisaris Jendral untuk membayar sejumlah tersebut dan memasukannya sebagai biaya perang.

VI.4 Kyai Modjo dan pengikutnya Menuju Ambon (bersama Adipati Anom - putra pangeran Diponegoro).

Semula Letnan Gubernur Jendral Van den Bosh yang baru diangkat (menggantikan De Cock) menginginkan agar Kyai Modjo dan 4 orang pengikutnya yaitu putra Kyai Modjo (Gazaly), Ajali (Imam Hazaly) dan putranya (Wiso/Ngiso, tidak berdua Reksonegoro karena akan menjadi 5 orang - penulis) serta Tirto drono (Suro Drono) tidak dikirim ke maluku tapi cukup di Batavia saja namun tidak disetujui oleh Komisaris Jendral.

Seara bertahap sejak dikeluarkannya Keputusan Letnan Gubernur Jendral tanggal 19 Oktober 1829 No.24 dan 24 Oktober No.18 tahanan politik tersebut sementara dikirim ke Ambon, menunggu kesiapan Manado menerima tahanan politik yang sangat istimewa tersebut sebagai tempat pembuangan terakhir.

Setelah sekitar 10 bulan Kyai Modjo dan pengikutnya berada dan ditahan di batavia, selanjutnya mereka diberangkatkan menuju Ambon dalam dua rombongan. Rombongan pertama menggunakan kapal Belanda ”Thalia”. Tidak ada informasi mengenai tanggal keberangkatan pertama ke Ambon namun penulis memperkirakan pada akhir bulan Oktober 1829.

Daftar nama 48 orang tawanan sesuai Keputusan Letnan Gubernur Jendral Tanggal 19 Oktober 1829 No.8 dikirim ke Ambon menggunakan kapal Thalia : 1) Pangeran Sudiro Kromo (putra P.Diponegoro ?), 2) Ketib Biman (Kyai baderan ?), 3) Wahodo, 4) Ishak, 5) Urawang (Urawan/Ngurawan), 6) Brojo Yudo, 7) Sis (Tumenggung Zes Pajang Mataram, putra Kyai Hasan Besari), 8) Reso Negoro (Tumenggung Reksonegoro), 9) Wonopati, 10) So Dilogo, 11) Joyo Prawiro, 12) Seco Dirjo, 13) Mohammad Ibrahim, 14) Adam Kasani, 15) Abdul rahman, 16) Mohamad Singep, 17) Ngiso (putra Moch.Khasan), 18) Janu, 19) Semangi, 20) Elias (Elias Zes, putra Kyai Hasan Besari), 21) Amat Senawi, 22) Sopani, 23) Maruf, 24) Kasimiman, 25) Ali, 26) Tahip (Thayeb), 27) Hilman Meraji, 28) Trasim, 29) Ngaliniman, 30) Ahmat Pekce (Maspekeh), 31) Kusasi (Kosasih), 32) Sopingi (putra Kyai baderan), 33) Kanafi (Hanafi), 34) Mesir, 35) Mangun, 36) Tamjid, 37) Mandurahman, 38) Sopingi (=no.32), 39) Kerip, 40) Jemari, 41) Kanapi (=no.33), 42) Raniman, 43) Kasriman, 44) Sarijo, 45) Amat Baino, 46) Sibawi, 47) Mohamad Kas(an)iman (Mochammad Khasan?), 48) Wiro Negoro (kepala keamanan kraton ?). Dari dokumen ini terdapat 2 orang yang yang ditulis dua kali (no.38 & no.41) sehingga jumlah sebenarnya adalah 46 orang. (Note: huruf tebal dan garis bawah dari penulis).

Di kapal Thalia tawanan no.1 s/ 21 ditempatkan pada kamar kelas.1, tawanan no.22 s/d 48 ditempatkan di kamar kelas-2.

Bila perjalanan batavia – Ambon membutuhkan waktu 2 bulan maka rombongan pertama ini diperkirakan tiba di Ambon pada bulan Desember 1829.

Sementara ke 48 pengikut Kyai Modjo dikirim ke Ambon pada tahap I, Kyai Modjo dan beberapa pengikut masih berada di penjara polisi Batavia, ditempatkan pada :

Kamar kelas 1 : Kyai Modjo, Ajali (Gazaly), Rojali, Hazaly.

Kamar kelas 2 : Tirto Drono.

Kamar kelas 3 : 37 pengikut.

Pengiriman Kyia Modjo dan sisa pengikutnya ke Ambon dilakukan pada tahap II, nampaknya dilakukan pada awal bulan Pebruari 1830 (sebulan sebelum Belanda mengadakan perundingan dengan Pangeran Diponegoro dan kemudian menangkapnya), setelah kapal Thalia kembali ke Batavia dari mengangkut rombongan tawanan tahap I ke Ambon, seperti tersirat dalam dokumen berikut.

Surat Direktur Lands Producten en Civile Magazijn tanggal 19 Pebruari 1830, ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral memberitahukan bahwa ref. Resolusi bersama antara Letnan Gubernur Jendral dan Hooge Regeering tanggal 29 Januari 1830 No.1, Direktur Lands Producten en Civile Magazijn mengajukan kuasa mengirim para tawanan menuju Ambon dari Batavia dengan kapal sewaan Mostora dengan juru mudi L.I.Psluger dan dikawal dengan kapal Thalia.

VI.5 Kyai Modjo dan pengikutnya Tiba di Ambon

Rombongan kedua (termasuk Kyai Modjo di dalamnya) diperkirakan tiba di Ambon pada awal bulan April 1830, seperti tersirat pada Surat Gubernur Maluku Tanggal 20 April 1830 No.32 yang ditujukan kepada Letnan Gubernur Jendral tentang :

a. kedatangan Kyai Modjo, Ajali (Gazaly), Rosali alias Hajali (Hazaly) dan 22 orang pengikut, semuanya berjumlah 25 orang. Dari 22 orang pengikut 10 orang diantaranya meninggal di perjalanan dan 1 orang meninggal setelah 2 hari tiba di Ambon. Pengikut yang meninggal tersebut adalah : 1) Mansur, 2) Saman, 3) Saeru Drono, 4) Adam, 5) Termis, 6) Hunus, 7) Citro Joyo, 8) Kuncung, 9) Setro Wijoyo, 10) Proyo Truno alias Sanogo, 11) Kasidin (meninggal di Ambon).

Bila nama Rosal (Rojali) sama orangnya dengan Hajali (Hazaly), maka jumlah tawanan yang masih tertinggal di batavia - ketika rombongan pertam diberangkatkan ke Ambon adalah 41 orang (Lihat 5.4 surat no.8) sehingga ada 16 orang yang tidak turut ke Ambon, kemungkinan mereka tetap atau meninggal di Batavia atau dikirim pada tahap ke 3 (wallahu alam).

b. Permintaan bantuan makanan dan pakaian dengan biaya setiap hari sebagai berikut;

- 1 gulden :Kyai Modjo

- 1 gulden :Ajali (Gazaly), Rosali (Hazaly) & Tirto Drono.

- 1 gulden : 11 orang pengikut.

Selain itu masih ditambah masing-masing 3 gulden per hari.

(Note: sebagai perbandingan gaji seorang patih di Surakarta 1000 gulden/bunan, Sartono Kartodirdjo ,1973).

c. Sesuai resolusi tanggal 29 januari 1830 No.2, tahap selanjutnya para tawanan akan dikirim ke Manado.

VI.6 Kyai Modjo dan pengikutnya diberangkatkan dari Ambon ke Manado.

Kyai Modjo dan pengikutnya berada di Ambon hanya sekitar 1 bulan, selanjutnya mereka diberangkatkan ke tempat pengasingan terakhir Manado.

Mengenai putra Pangeran Diponegoro, dia tidak ikut serta ke Menado tetapi tetap tinggal di Ambon hingga wafat di sana.

VI.7 Kyai Modjo dan Pengikutnya Tiba di Manado.

Tidak ada dokumen di Arsip Nasional Indonesia (ARNI) yang menginformasikan tanggal kedatangan Kyai Modjo dan pengikutnya di Manado. Namun menurut suatu study (Babcock,1989) mereka tiba di Manado (Pelabuhan Amurang ?) pada bulan Mei 1830.

Letnan Belanda yang mengawal selama perjalanan dari Surakarta sampai di Manado melaporkan bahwa Kiay Modjo dan pengikutnya sering menyanyikan lagu-lagu (Zikir Qolibah ?) yang diambil dari Alquran.

VI.8 Tentang Istri Kyai Modjo : Diasingkan Menyusul Kyai Modjo ke Tondano.

Setelah penangkapan Kyai Modjo pada Nopember 1828, istri Kyai Modjo tinggal di Bojonegoro, Keresidenan Rembang. Beliau mencoba datang ke kraton namun ditolak oleh petinggi kraton.

Keberadaannya di tanah jawa masih dianggap berbahaya oleh Belanda dan diasingkan ke Tondano menyusul suaminya – Kyai Modjo ke Tondano pada tahun 1831. nama sebenarnya tidak diketahui, namun di Tondano beliau dikenal dengan sebutan ”mbah wedok” (mbah perempuan) saja.

Keadaan ”mbah wedok” setelah penangkapan Kyai Modjo terekam dalam dokumen berikut :

1. Surat Residen Kedu (Lawick van Pabst) tanggal 12 Pebruari 1831 No.6.

Surat ditujukan kepada Komisaris Raja-Raja Jawa di Yogyakarta, isi surat melaporkan :

a. Istri Kyai Modjo telah datang ke Yogya tapi dilarang masuk oleh para penguasa kraton karena dianggap berbahaya.

b. Residen Kedu telah mengadakan pertemuan dengan para penguasa kraton dan mendapat keterangan bahwa penguasa kraton tidak bertanggung jawab terhadap wanita itu.

c. Penguasa kraton tidak yakin dapat menjaga wanita itu di kraton karena telah terbukti wanita itu telah pergi ke Distrik Padangan untuk bertemu dengan Raden Ronggo – tokoh ini pada pemerintahan Daendels pernah memberontak disebuah gunung.

d. Di tempat Raden Ronggo, wanita ini memanfaatkan waktunya memuja Raden Ronggo sebagai Nabi sambil menghasut kemarahan penduduk, dan wanita ini berhasil mendapat pengikut dan dicintai pengikutnya.

e. Residen Kedu mengusulkan agar istri Kyai Modjo ini segera dikirim ke Manado berkumpul dengan suaminya di sana.

2. Surat Komisaris Raja-Raja Jawa tanggal 16 Pebruari 1831 No.8.

Surat ditujukan kepada kedua penguasa kerajaan di Jawa, isi surat :

  1. Istri Kyai Modjo sesudah akhir Perang jawa, tinggal di Bojonegoro, Keresidenan Rembang. Kemudian berita terakhir ia berada di Keresidenan Madiun, lalu mendapat ijin selama beberapa bulan di Yogy. Ternyata selama 2 bulan ia beserta pengikutnya sulit ditemukan.
  2. Residen Kedu melalui suratnya tanggal 12 Pebruari 1831 No.6 telah mengusulkan agar istri Kyai Modjo ini segera dikirim ke Manado berkumpul dengan suaminya di Manado.
  3. Sehubungan dengan hal itu, mohon Lawick van Pabst diberi ijin mengurus (mengirim) wanita itu (ke Manado).

3. Surat Komisaris Raja-Raja Jawa tanggal 16 Pebruari 1831 No.46.

(Surat ditujukan kepada Residen Kedu) menugaskan Residen Kedu mengirim istri Kyai Modjo besok hari, dari Magelang ke Semarang dengan pengawalan prajurit bersenjata lengkap selama dalam perjalanan, walaupun ini merupakan penghinaan karena dikirim dari Magelang bukan Yogyakarta (maksudnya krabat kraton sudah tidak mempedulikan istri Kyai Modjo, padahal ia adalah mantan istri (janda cerai) Pangeran Mangkubumi – adik seorang Raja Jawa; HB III – penulis).

VI.9 Nasip Sentot, Mangkubumi dan Diponegoro paskah penangkapan Kiay Modjo.

Sejak Kyai Modjo ditangkap dan pada Nopember 2008, pada awal tahun 1829 Diponegoro menyatakan kesediaannya berunding tanpa melepas tuntutannya untuk tetap diakui sebagai panatagama. Berturut-turut, sesudah itu menyerahlah Pangeran Mangkubumi (September 1829), dan Sentot (Oktober 1829), yang menyatakan siap sedia mencurahkan tenaga bagi bala tentara Belanda.

Tertangkapnya Kiay Modjo pada tanggal 12 Nopember 1828 memberikan pukulan yang berat pada Pangeran Diponegoro. Sebaliknya Belanda sangat bersuka cita karena dengan demikian pilar utama Pangeran diponegoro sudah runtuh. Tinggal dua pilar Pangeran Diponegoro yang harus dilumpuhkan yaitu panglima pemberani; Sentot Alibasyah Prawirodirdjo (saat itu berumur sekitar 20 tahun) dan Pangeran Mangkubumi.

Belanda berusaha mengontak Sentot dan memberikan janji yang muluk-muluk agar mau menghentikan perlawanan. Sentot terpengaruh dan pada tanggal 17 Oktober 1829 Sentot menghentikan perlawanan. Barangkali karena umurnya yang masih belia dan dendamnya sudah tersalurkan, ia akhirnya, dengan imbalan materi dari Belanda, bersedia meletakan sejata pada tanggal 17 Oktober 1829. Bahkan selanjutnya sebagai tentara bayaran Belanda, Sentot dikirim ke Sumatra Barat memerangi saudara muslimnya sendiri dalam perang Padri. Usaha Sentot untuk kembali ke Jawa setelah usai perang padri tidak dikabulkan oleh Belanda. Dan di Bengkulu Sentot menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 17 April 1855 dalam usia 48 tahun.

Pangeran Mangkubumi yang saat itu sudah berusia sepuh (70 tahun) dan anak istrinya disandera oleh Belanda akhirnya menyerah pada tanggal 28 September 1829.

Dengan tertangkap dan menyerahnya tokoh-tokoh pendukung utamanya maka posisi Pangeran Diponegoro menjadi sangat sulit sehingga mudah bagi Belanda memperdayainya. Dengan menggunakan cara yang sama ketika memperdayai Kiay Modjo dan Sentot, Belanda kembali menyusun siasat untuk menangkap Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro yang paham bahwa posisinya sudah lemah akhirnya bersedia berunding dengan Belanda. Dengan menggunakan pengaruh kebangsawanannya dan pimpinan perang tertinggi beliau berusaha mempengaruhi Belanda untuk tunduk pada keinginannya sebagai kompensasi perdamaian, atau akan terus berperang. Namun Belanda menganggap ancaman Diponegoro tersebut sebagai gertakan saja. Belanda tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu; Pangeran Diponegoro harus ditangkap tanpa syarat.

Pada Februari 1830 terjadi perundingan antara Pangeran Diponegoro dengan Van de Kock. Perundingan itu sempat ditunda karena Diponegoro tak bersedia berunding selama bulan puasa. Diponegoro diundang ke Magelang untuk berunding dengan jaminan, jika perundingan gagal, maka Diponegoro dibolehkan kembali ke tempatnya dengan aman. Perundingan diadakan pada saat perayaan Idul Fitri tanggal 28 Maret 1830. Namun sebenarnya perundingan itu adalah jebakan belaka karena de Kock sudah mengatur siasat liciknya yaitu sebelum memasuki wilayah perundingan pasukan Diponegoro dilucuti senjatanya. Pangeran Diponegoro diundang ke rumah Residen Kedu di Magelang guna meneruskan perundingan antara pihak Pangeran Diponegoro dan pihak Belanda, namun tidak tercapai kesepakatan. Ketika pihak Pangeran Diponegoro akan meninggalkan tempat perundingan untuk meneruskan peperangan, Belanda menggunakan kekuatan militernya dan memaksa Pangeran Diponegoro untuk menyerah atau dibunuh. Siasat licik Belanda untuk kesekian kali telah memperdaya Kiay Modjo dan Pangeran Diponegoro.

Dalam perundingan, Diponegoro ternyata masih berkeras dengan tuntutannya sehingga ia ditawan dan dibawa ke Ungaran, kemudian ke Semarang untuk selanjutnya 8 April 1830 sampai di Jakarta dan ditawan di Stadhuis, pada 3 Mei 1830 melalui pelabuahan Batavia diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado. Di Manado ditawan di benteng Amsterdam, Pangeran Diponegoro hanya empat tahun karena Belanda menganggap penjagaan di Manado kurang kuat.

Diponegoro dipindah ke benteng Rotterdam di Makasar (kini Ujungpandang) tahun 1834, sampai wafatnya, 8 Januari 1855, dalam usia 70 tahun, dan dimakamkan di kampung Melayu Makassar.

Demikianlah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro. Selanjutnya Pangeran Diponegoro dan pengikutnya dibawa menuju Semarang kemudian Batavia dan tiba di Batavia (Jakarta) pada tanggal 8 April 1830. Selanjutnya pada tanggal 3 Mei 1830 mereka diberangkatkan dari Batavia menuju Manado dengan menggunakan kapal Belanda “Polux”. Selain Pangeran Diponegoro dalam kapal tersebut juga ikut istrinya (RA Ratnaningsih), saudara wanita dan suaminya (RA Dipasana, Tmg.Dipasana), pengawal dan pelayan laki-laki (Wangso Taruno alias Sataruno, Anggamerta, Rajamenggala, Rata Djoyosuroto, Bambang Mertosono alias Merta Leksono, Achmad Banteng Wareng, Saiman, Kasiman, Tiplak, Nurhamidin), pengikut perempuan ; Nyai Dula (ibu dari Rata Djoyosuroto), Nyai Anggamerta, Nyai Sataruna, Sarinten, Truna Danti, Nyami). Sedangkan anak-anak Pangeran Diponegoro tertinggal di Jawa. Rombongan Pangeran Diponegoro tiba di Manado pada tanggal 12 Juni 1830 dan di tahan di Benteng Belanda “Amsterdam” selama 4 tahun. Selama di Manado Pangeran Diponegoro tidak pernah bertemu dengan Kiay Modjo yang berada di Tondano. Dilaporkan waktu di Manado Pangeran Diponegoro mengirimkan bantuan uang kepada Kiay Modjo, tetapi dikembalikan lagi oleh Kiay Modjo. Pada tahun 1834 Pangeran Diponegoro berikut pengawal dan pelayannya dipindahkan ke Makasar (Ujungpandang) dan ditahan di Benteng “Roterdam” hingga wafat di sana pada tanggal 8 Januari 1855 dalam usia 70 tahun.

Pada selang tahun 1835 – 1840 sebagian pengikut Pangeran Diponegoro yang laki-laki (Sataruno, Djoyosuroto, Mertosono, Nurhamidin, Banteng Wareng) kembali ke Manado (Kampung Jawa Tondano) kemudian menikah dan memiliki keturunan di sana.


Petunjuk Menonto Video Secara Lengkap

Bila gambar dan suara agak tersendat atau terputus-putus, maka agar gambar dan musik dapat ditonton dan didengar secara normal harap tunggu setelah komputer anda selesai menstreaming seluruh isi video dalam beberapa menit (1 - 5 menit, tergantung pada jenis komputer anda), kemudian replay (play ulang).

Liputan 6 SCTV 2006: Punnguan Di Kampung Jawa Tondano

Cuplikan Selawat Jowo, Kampung Jawa Tondano

MusicVideo: Waki Tembo Temboan


MusicVideo Jaton : Opo Mana Natas


MusicVideo Jaton: Mesjid & Makam Kyai Modjo


Silsilah Kyai Modjo

Silsilah Kyai Modjo
Silsilah Kekerabatan Kyai Modjo & Cikal Bakal Keluarga Keturunan Mereka di kampung Jawa Tondano

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)

Denah Kampung Jawa Tondano (JATON)