Selasa, 21 Maret 2023

XVI. KEMENANGAN-KEMENANGAN

 Menjelang dua tahun peperangan tidak ada tanda-tanda pihak Belanda akan memenangkan peperangan. Belanda mengira pasukan Diponegoro lama kelamaan akan kelelahan dan kelaparan karena logistik yang semakin berkurang. Banyak kebun-kebun sawah rakyat dibakar Belanda dengan harapan pasukan Diponegoro akan kesulitan mencara bahan makanan. Ternyata dugaan Belanda meleset. Pasukan Diponegoro mampu bertahan dengan hanya makan seadanya. Dilain pihak, Belanda telah mengalami banyak kerugian ribuan nyawa serdadunya dan biaya perang yang semakin membesar. Belanda mulai frustrasi.

Hingga bulan April 1827, sekitar 1.603 orang serdadu de Kock tewas atau sekitar 27% dari 8.000 orang. Menurut de Kock, yang tak ingin mengakui kurangnya jumlah personel, ada dua faktor penghambat, yaitu faktor geografis dan faktor karakter perlawanan rakyat (Djamhari 2004, hal 81).

Strategi perang gerilya yang dilancarkan Pasukan Diponegoro dan Kyai Modjo telah memporak-porandakan pertahanan tentara Belanda. Perang gerilya merupakan terjemahan dari bahasa Spanyol yaitu guerrilla yang secara harfiah berarti perang kecil. Strategi perang gerilya dilaksanakan secara berpindah-pindah, sembunyi-sembunyi, penuh sabotase, namun fokus dan efektif.

Memasuki tahun ketiga peperangan tidak ada kemajuan yang berarti di pihak Belanda. Pemerintah kolonial Belanda mengalami kerugian besar. Selain banyak kehilangan tentara, juga uang kas negara tersedot untuk membiayai perang. Sebab itu Belanda berusaha keras untuk menghentikan perang baik dengan cara militer atau poilitis, baik dengan cara bermartabat atau curang. Belanda juga menyusupkan beberapa orang pangeran dan ulama, orang-orang pro-Belanda, ke dalam kepasukan Pangeran Diponegoro dan berpura-pura menjadi pengikut Pangeran Diponegoro, padahal mereka adalah mata-mata untuk kepentingan Belanda. Tugas penyusup adalah melemahkan pasukan perlawanan dari dalam.

Tugas penyusup pro-Belanda tersebut adalah membujuk para komandan perang untuk menyerah dengan imbalan uang. Selain itu mereka juga memfasilitasi penyelundupan candu ke pasukan perlawanan agar tentara perlawanan menjadi madat candu yang akhirnya menyebabkan mereka kurang tidur, fisik melemah, tidak lagi disiplin dan enggan berperang

Tidak ada komentar: